Memahami Surfactant Retention dalam Chemical EOR

Share on linkedin
Share on email
Share on twitter

Dalam surfactant flooding, surfaktan diinjeksikan ke reservoir untuk membantu meningkatkan perolehan minyak, salah satunya melalui penurunan interfacial tension (IFT) antara minyak dan air. Namun, tidak seluruh surfaktan yang diinjeksikan akan tetap bergerak bersama fase fluida. Sebagian surfaktan dapat tertahan di dalam porous media melalui beberapa mekanisme. Memahami surfactant retention penting untuk mengevaluasi bagaimana surfaktan ditransportasikan melalui batuan serta bagaimana retention dapat mempengaruhi efisiensi penggunaan chemical dalam Chemical Enhanced Oil Recovery (EOR).

Gambar 1. Aliran surfaktan melalui media batuan berpori selama proses injeksi.
Gambar 2. Surfactant retention akibat interaksi dengan permukaan mineral dan sistem pori.

Apa yang Terjadi pada Surfaktan di Porous Media?

Ketika surfaktan mengalir melalui batuan, molekulnya dapat berinteraksi dengan permukaan batuan dan fluida di dalam pori. Interaksi tersebut dapat menyebabkan sebagian surfaktan tertahan di dalam porous media.

Beberapa mekanisme surfactant retention meliputi:

  • Adsorption, yaitu interaksi molekul surfaktan dengan permukaan batuan yang menyebabkan surfaktan teradsorpsi pada permukaan tersebut.
  • Phase trapping, yaitu surfaktan tertahan akibat distribusi dan interaksi antar fase di dalam pori.
  • Precipitation, yaitu terbentuknya presipitat atau fase padat pada kondisi tertentu sehingga sebagian surfaktan tidak lagi berada dalam fase fluida yang mengalir.

Mekanisme tersebut dapat mempengaruhi transport surfaktan di dalam porous media.

Gambar 3. Beberapa mekanisme surfactant retention.

Mengapa Surfactant Retention Penting?

Surfaktan yang tertahan tidak lagi ikut bergerak bersama flowing phase. Retention yang lebih tinggi dapat mengurangi jumlah surfaktan yang terus bergerak melalui porous media dan berpotensi meningkatkan kebutuhan chemical untuk mencapai area target.

Karena itu, retention menjadi salah satu aspek penting dalam mengevaluasi perilaku dan efisiensi chemical pada Chemical EOR. Namun, retention bukan satu-satunya parameter untuk menilai kinerja surfaktan. Evaluasi juga dapat mencakup IFT, phase behavior, stabilitas, wettability, dan performa coreflood.

Gambar 4. Alasan mengapa surfactant retention itu penting.

Bagaimana Retention Dievaluasi di Laboratorium?

Retention dapat dipelajari melalui pengujian statis maupun dinamis. Pada pengujian dinamis seperti coreflood, surfaktan dialirkan melalui core plug, kemudian effluent dikumpulkan dan dianalisis.

Secara sederhana, pengujian dapat dilakukan melalui tahapan:

Brine saturation → Surfactant injection through the core → Post-flush → Effluent collection → Concentration analysis

Secara sederhana, jumlah surfaktan yang diinjeksikan dibandingkan dengan jumlah surfaktan yang diperoleh kembali dari effluent. Berdasarkan pendekatan material balance, selisih keduanya dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah surfaktan yang tertahan di dalam porous media:

Surfactant injected − Surfactant recovered = Surfactant retained

Hasil retention dapat dinyatakan, misalnya, dalam mg surfaktan/g batuan.

Gambar 5. Tahapan pengujian dinamis yang dilakukan untuk mengevaluasi surfactant retention.
Gambar 6. Cara memperkirakan jumlah surfaktan yang tertahan di media berpori dengan pendekatan material balance.

Faktor yang Mempengaruhi Retention

Besarnya surfactant retention dapat berbeda pada setiap sistem dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:

  • jenis dan mineralogi batuan
  • jenis dan konsentrasi surfaktan
  • komposisi dan salinitas brine
  • pH
  • temperatur
  • interaksi rock–surfactant–brine

Oleh karena itu, pengujian dengan kondisi yang relevan dengan sistem reservoir menjadi bagian penting dalam evaluasi Chemical EOR.

Dari Laboratorium ke Aplikasi EOR

Data surfactant retention memberikan gambaran mengenai bagaimana surfaktan ditransportasikan melalui porous media dan dapat digunakan sebagai salah satu bagian dari proses screening dan evaluasi Chemical EOR.

Dalam penerapannya, data retention tidak berdiri sendiri. Hasil pengujian perlu dipertimbangkan bersama parameter lain seperti IFT, phase behavior, stabilitas, wettability, dan coreflood performance untuk memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai perilaku dan performa chemical.

Dengan demikian, pengujian retention—khususnya pada kondisi dinamis—dapat membantu menghubungkan evaluasi chemical di laboratorium dengan kebutuhan desain dan pengembangan Chemical EOR.

Untuk Informasi dan Kolaborasi
Laboratorium EOR ITB
Email: eor@itb.ac.id

OGRINDO ITB
Email: info@ogrindoitb.com
Website: www.ogrindoitb.com