Kategori
News Article

CCUS in Action: Kisah Sukses Global dan Pembelajaran bagi Masa Depan Rendah Karbon Indonesia

Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) telah menjadi salah satu solusi nyata yang terbukti secara global. Dari penyimpanan CO₂ di bawah laut hingga mineralisasi alami menjadi batu, proyek-proyek unggulan seperti di Norwegia dan Islandia menunjukkan bahwa emisi karbon tidak hanya dapat dikendalikan, tetapi juga dimanfaatkan untuk menciptakan nilai ekonomi baru. Dengan rekam jejak implementasi yang terverifikasi secara ilmiah, CCS/CCUS kini menjadi pilar penting dalam transisi menuju masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Menuju Masa Depan Rendah Karbon Melalui Implementasi Teknologi CCUS yang Terverifikasi Secara Global

Di tengah urgensi transisi energi global, teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) telah menjadi salah satu pilar utama dalam upaya mengurangi emisi karbon. Melalui penerapan di berbagai negara, CCUS terbukti efektif tidak hanya dalam menekan emisi gas rumah kaca, tetapi juga mendorong efisiensi ekonomi dan keberlanjutan industri energi.
Berikut dua kisah sukses dunia yang menunjukkan bahwa solusi rendah karbon bukanlah sekadar konsep — tetapi sudah menjadi kenyataan.

Sleipner (Norwegia): Pionir Penyimpanan CO₂ di Laut Lepas

Diluncurkan pada tahun 1996 oleh Equinor (d/h Statoil), Proyek Sleipner berlokasi di Sleipner West gas field, sekitar 250 km barat daya Stavanger, Norwegia, di wilayah Central North Sea. Proyek ini merupakan CCS komersial pertama di dunia, yang menyuntikkan CO₂ hasil pemisahan gas alam ke dalam Utsira Formation yang terletak pada kedalaman sekitar 800–1000 meter di bawah permukaan laut. Hingga kini, lebih dari 16 juta ton CO₂ telah berhasil disimpan secara aman di Utsira Formation. Keberhasilan Sleipner ditopang oleh sistem pemantauan 3D seismik dan gravimetrik yang ketat, memastikan tidak ada kebocoran CO₂ dari lapisan penyimpanan. Dengan biaya penyimpanan yang efisien, proyek ini membuktikan bahwa CCS dapat berjalan aman dan ekonomis sekaligus memenuhi regulasi lingkungan yang ketat di Eropa.

Skema dan platform proyek Sleipner di North Sea, Norwegia — proyek CCS komersial pertama di dunia yang telah menyimpan lebih dari 16 juta ton CO₂ secara aman sejak 1996. Sumber: Solomon (2007), Bellona Foundation; Equinor.

CarbFix (Islandia): Menyulap CO₂ Menjadi Batu

Di bawah tanah basalt Islandia, proyek CarbFix mengubah konsep CCS menjadi sesuatu yang lebih permanen — mineralisasi alami. Dengan mencampur CO₂ ke dalam air dan menyuntikkannya ke batuan basalt reaktif, lebih dari 95% CO₂ berubah menjadi batu karbonat.
Keunggulan metode ini adalah keamanan penyimpanan jangka panjang: karbon diubah menjadi mineral padat, menghilangkan risiko kebocoran. Hingga kini, CarbFix telah menyimpan lebih dari 100.000 ton CO₂ di bawah tanah Islandia. Metode mineralisasi cepat yang dikembangkan proyek ini kini diadaptasi di berbagai negara — termasuk Norwegia, Amerika Serikat, dan India — melalui proyek-proyek riset yang menerapkan prinsip serupa untuk menyimpan karbon secara permanen di batuan basalt.

Skema proses dan lokasi proyek CarbFix di Pembangkit Listrik Panas Bumi Hellisheidi, dekat Reykjavík, Islandia. Proyek ini mengubah CO₂ menjadi batu karbonat secara permanen di bawah tanah basalt. Sumber: Matter & Kelemen (2021), Nature Reviews Earth & Environment; Reuters.

Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia

Indonesia memiliki potensi penyimpanan karbon mencapai sekitar 400 gigaton CO₂ di berbagai formasi geologi — termasuk reservoir minyak dan gas, batuan pasir, serta saline aquifer yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa. Potensi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kapasitas penyimpanan karbon terbesar di Asia Tenggara.
Namun, pengalaman dari Sleipner (Norwegia) dan CarbFix (Islandia) menunjukkan bahwa keberlanjutan implementasi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada ekosistem pendukung yang kuat: regulasi, kolaborasi, dan kepercayaan publik.

Peta proyek CCS/CCUS yang sedang dikembangkan di Indonesia. Ilustrasi ini menunjukkan potensi penyimpanan karbon di berbagai wilayah strategis. Sumber: Wibisono, N. (2024), “CCS in Indonesia,” Energy Geoscience.

1️⃣ Kerangka Regulasi yang Kuat dan Adaptif
Langkah penting telah dimulai melalui Peraturan Presiden No. 14 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (CCS), yang menjadi dasar hukum nasional pertama yang secara komprehensif mengatur pelaksanaan CCS/CCUS di Indonesia. Perpres ini menetapkan definisi, mekanisme izin, serta skema bisnis dan teknis untuk CCS/CCUS. Regulasi ini memberikan kejelasan mengenai perizinan, hak penyimpanan CO₂, pembagian tanggung jawab, serta mekanisme pemantauan pasca-penutupan proyek.

Selain itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga telah menerbitkan Panduan Teknis Implementasi CCS/CCUS sebagai acuan bagi industri dan lembaga riset dalam melakukan studi kelayakan, desain injeksi, serta pengawasan lapangan.

2️⃣ Kolaborasi Lintas Sektor
Sejalan dengan praktik global, keberhasilan implementasi CCS/CCUS di Indonesia membutuhkan sinergi antara pemerintah, industri energi, akademisi, dan lembaga riset. Di sinilah peran Institut Teknologi Bandung (ITB) dan OGRINDO ITB menjadi kunci — menjembatani riset laboratorium, pemodelan reservoir, serta uji lapangan dengan kebutuhan industri.
Kolaborasi dengan perusahaan migas nasional seperti Pertamina Subholding Upstream dan mitra internasional juga membuka peluang besar untuk pilot project CCS/CCUS, khususnya di lapangan migas yang sudah memasuki tahap mature field.

3️⃣ Pemantauan Ilmiah dan Keterbukaan Data
Dari pengalaman Sleipner dan CarbFix, terbukti bahwa pemantauan berbasis sains dan transparansi data merupakan faktor penting dalam menjaga kepercayaan publik dan keberlanjutan proyek jangka panjang. Sleipner, misalnya, telah menjalankan program pemantauan seismik 4D dan survei gravimetri selama lebih dari 20 tahun untuk memastikan keamanan penyimpanan CO₂, sementara CarbFix membuka data risetnya secara publik untuk mendukung inovasi dan kolaborasi global.

Pendekatan serupa dapat diterapkan di Indonesia — dengan membangun sistem pemantauan dan pelaporan terbuka yang dapat diakses oleh pemerintah, akademisi, dan masyarakat, guna memperkuat kepercayaan publik terhadap implementasi teknologi CCUS.

Melalui pendekatan terintegrasi ini, Indonesia memiliki peluang besar untuk meniru kesuksesan global dan mewujudkan proyek komersialisasi CCS/CCUS pertama pada tahun 2026, sebagaimana ditetapkan dalam Peta Jalan Transisi Energi Nasional. Saat ini, beberapa perusahaan energi nasional telah memulai studi kelayakan CCS/CCUS di berbagai lapangan migas, termasuk Lapangan Gundih (Jawa Tengah) dan Tangguh (Papua Barat), yang ditargetkan menjadi proyek percontohan pertama sebelum 2026. Implementasi awal ini akan menjadi landasan untuk membangun ekosistem penyimpanan karbon jangka panjang di Indonesia. Keberhasilan proyek percontohan ini akan menjadi tonggak penting dalam mencapai target Net Zero Emission 2060.

🌱 Dari Riset Menuju Aksi

Teknologi CCUS bukan sekadar solusi masa depan — tetapi investasi strategis untuk memastikan keberlanjutan energi nasional dan daya saing industri. Melalui riset kolaboratif, inovasi teknologi, dan transfer pengetahuan, OGRINDO ITB berkomitmen mendukung pengembangan CCS/CCUS dari tahap laboratorium hingga implementasi lapangan.

Dengan dukungan kebijakan yang jelas, kolaborasi multisektor, dan fondasi ilmiah yang kuat, Indonesia siap melangkah dari fase riset menuju implementasi nyata — menjadikan karbon bukan lagi beban, melainkan peluang untuk membangun masa depan energi bersih yang berdaya saing global.

📩 Tertarik berkolaborasi dalam riset CCS/CCUS?
Hubungi kami di info@ogrindoitb.com.

Mari bersama mempercepat langkah menuju Net Zero Emission 2060 dan membangun masa depan energi Indonesia yang tangguh, bersih, dan berdaya saing global.

📚 Daftar Referensi

  • Furre, A.-K., Eiken, O., Alnes, H., Vevatne, J. N., & Kiær, A. F. (2017). 20 years of monitoring CO₂-injection at Sleipner. Energy Procedia, 114, 3916–3926.
  • Snæbjörnsdóttir, S. Ó. et al. (2020). Carbon dioxide storage through mineral carbonation. Nature Reviews Earth & Environment, 1, 90–102.
  • Ramadhan, R. et al. (2024). Carbon capture, utilization, and storage in Indonesia. Energy Geoscience, 5, 100335.
  • CarbFix Official Website
Kategori
News Article

Empat Mekanisme Trapping: Cara CO₂ Terkunci Aman di Bawah Tanah

Perubahan iklim akibat meningkatnya emisi CO₂ adalah tantangan besar yang kita hadapi saat ini. Untuk mencegah dampaknya, Carbon Capture and Storage (CCS) hadir sebagai solusi terbukti aman untuk menyimpan CO₂ jauh di bawah tanah. CCS bukan hanya mencegah emisi mencapai atmosfer, tetapi juga menjadi fondasi penting dari Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS)—sebuah jalur yang memungkinkan emisi CO₂ diubah menjadi peluang bernilai.

Gambar 1. Skema keseluruhan proyek CCS: mulai dari penangkapan emisi CO₂, transportasi, hingga penyimpanan permanen di bawah permukaan bumi (Ali et al, 2022)

Empat Mekanisme Trapping CO₂
Keamanan jangka panjang penyimpanan CO₂ dijamin oleh empat mekanisme alami yang saling melengkapi seiring waktu:

  1. Structural Trapping
    CO₂ yang bergerak ke atas akibat perbedaan densitas akan terhenti oleh caprock. Densitas gas yang cenderung lebih kecil daripada minyak dan air, maka gas CO₂ akan berangsur bergerak ke arah vertikal. Untuk mencegah CO₂ tetap terjebak di dalam formasi, maka dibutuhkan batuan caprock yang cukup reliable, memiliki permeabilitas yang sangat kecil, serta wettability yang mengarah ke strong water wet.
  2. Residual Trapping
    Sebagian CO₂ terjebak dalam pori-pori batuan sebagai gelembung kecil yang tidak dapat bergerak lagi. Mekanisme ini memberikan stabilitas penyimpanan dalam jangka panjang.
  3. Dissolution Trapping
    CO₂ larut dalam air formasi dan membentuk larutan karbonat yang memiliki densitas yang lebih berat dibandingkan dengan fluida lain yang ada di dalam formasi sehingga cenderung turun ke arah bawah dan mengurangi risiko kebocoran CO₂.
  4. Mineral Trapping
    CO₂ yang larut bereaksi dengan mineral batuan (Ca, Mg, Fe) dan membentuk mineral karbonat padat seperti kalsit atau magnesit. Ini adalah bentuk penyimpanan paling permanen karena CO₂ berubah menjadi batuan baru yang stabil selama ribuan tahun.

Mekanisme ini bekerja berlapis: structural dan residual memberikan perlindungan segera, sementara dissolution dan mineral memastikan keamanan jangka panjang. Bersama-sama, mereka menciptakan garis pertahanan berlapis yang menjamin CO₂ tetap aman tersimpan selama berabad-abad.

Gambar 2. Kontribusi berlapis dari mekanisme trapping CO₂ yang saling melengkapi seiring waktu, menjaga keamanan penyimpanan dari generasi ke generasi.

CCS Sebagai Fondasi CCUS
Memahami empat mekanisme ini membantu kita melihat bahwa CCS adalah langkah awal yang krusial dalam perjalanan menuju CCUS. Tanpa penyimpanan yang aman, sulit bagi kita mengembangkan pemanfaatan CO₂ dalam skala besar. Melalui CCS, CO₂ tidak hanya tersimpan secara aman di bawah tanah, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan kembali—misalnya dalam Enhanced Oil Recovery (EOR) sebagai bagian dari solusi CCUS.

🌱 Ini Baru Langkah Awal
Pada episode berikutnya, kami akan membahas bagaimana CCUS mengubah CO₂ dari beban menjadi sumber daya bernilai, mendorong inovasi industri, dan mempercepat transisi energi yang lebih bersih.
✨ Tetap ikuti seri artikel kami, dan jadilah bagian dari perjalanan menuju masa depan rendah karbon.
📩 Hubungi kami: info@ogrindoitb.com
🌐 Pelajari lebih lanjut: www.ogrindoitb.com

Referensi:
IPCC, 2005: IPCC Special Report on Carbon Dioxide Capture and Storage. Prepared by Working Group III of the Intergovernmental Panel on Climate Change [Metz, B., Davidson, O., de Coninck, H.C., Loos, M., and Meyer, L.A. (eds.)]. Cambridge University Press, Cambridge, United Kingdom and New York, NY, USA, 442 pp.