Upaya peningkatan produksi minyak dan gas nasional di tengah penurunan produksi lapangan eksisting menuntut penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) yang semakin matang, terukur, dan berbasis riset. Menjawab tantangan tersebut, telah diselenggarakan Training Surfactant Screening for Enhanced Oil Recovery (EOR) pada Selasa, 9 Desember 2025, bertempat di Best Western Premier The Hive, Cawang, DKI Jakarta.
Pelatihan ini menghadirkan Ir. Mahruri, S.T., M.Sc., Project Manager Laboratorium EOR ITB sekaligus Peneliti OGRINDO ITB, sebagai pemateri. Kegiatan diselenggarakan oleh KOPUM IATMI (Koperasi Jasa Usaha Mandiri Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia) dan diikuti oleh para profesional dari Pertamina RTI.
Pelatihan ini menjadi momentum strategis dalam meningkatkan kapasitas teknis serta memperkuat kompetensi para profesional perminyakan, khususnya untuk mendukung pengembangan dan optimalisasi penerapan teknologi EOR di berbagai wilayah kerja migas Indonesia.

Urgensi Penerapan EOR di Lapangan Migas Indonesia
Pada sesi pembuka, Ir. Mahruri memaparkan gambaran komprehensif mengenai tahapan produksi minyakāmulai dari primary recovery, secondary recovery, hingga Enhanced Oil Recovery. Disampaikan bahwa meskipun metode waterflood dan gas flood telah banyak diterapkan, porsi minyak signifikan masih tertinggal di reservoir akibat keterbatasan mekanisme displacement konvensional.
Dalam konteks ini, EOR hadir sebagai solusi strategis untuk:
- Menguras residual oil yang terperangkap secara mikroskopis,
- Meningkatkan recovery factor,
- Memperpanjang umur lapangan migas eksisting.
Secara global, kontribusi EOR terhadap produksi minyak dunia terus meningkat, terutama di negara-negara dengan lapangan mature. Indonesia memiliki potensi besar untuk mengoptimalkan EOR, khususnya Chemical EOR, baik pada reservoir sandstone maupun karbonat.
Chemical EOR dan Peran Strategis Surfaktan
Fokus utama training ini adalah Chemical EOR, dengan penekanan pada surfactant flooding. Secara fundamental, Chemical EOR bertujuan memodifikasi sifat fisika-kimia fluida dan batuan reservoir melalui injeksi bahan kimia seperti alkali, surfaktan, dan polimer.
Ir. Mahruri menjelaskan bahwa surfaktan memegang peranan krusial dalam:
- Menurunkan interfacial tension (IFT) antara minyak dan air hingga mencapai kondisi ultra-low IFT,
- Membentuk mikroemulsi yang mampu memobilisasi residual oil,
- Mengubah kebasahan batuan (wettability alteration),
- Meningkatkan efisiensi displacement dan proses imbibisi.
Keberhasilan surfactant flooding sangat bergantung pada proses screening dan evaluasi laboratorium yang komprehensif, sehingga surfaktan yang diaplikasikan benar-benar kompatibel dengan karakteristik reservoir.




Surfactant Screening: Dari Konsep hingga Evaluasi Laboratorium
Salah satu keunggulan utama pelatihan ini adalah pembahasan mendalam mengenai alur surfactant screening berbasis laboratorium, mencakup interaksi fluidāfluid dan rockāfluid, serta kinerja kimia dalam media berpori.
Beberapa pengujian penting yang dibahas meliputi:
- CMCāIFT Test
Menentukan konsentrasi optimum surfaktan untuk menghasilkan nilai IFT terendah. Surfaktan yang unggul diharapkan mampu mencapai ultra-low IFT (<10ā»Ā² mN/m) pada konsentrasi yang ekonomis. - Aqueous Stability Test
Mengukur kestabilan dan kompatibilitas surfaktan dalam brine injeksi maupun native brine reservoir guna menghindari risiko presipitasi dan plugging. - Phase Behavior Test
Mengevaluasi pembentukan mikroemulsi (Winsor Type III) sebagai indikator utama efektivitas surfaktan dalam memobilisasi minyak sisa. - Thermal Stability & Filtration Test
Memastikan stabilitas surfaktan pada suhu reservoir serta meminimalkan potensi gangguan injektivitas selama proses injeksi. - Wettability, Adsorption, dan Imbibition Test
Menilai kemampuan surfaktan dalam mengubah kebasahan batuan serta meminimalkan kehilangan surfaktan akibat adsorpsi. - Coreflooding dan Micromodel
Tahapan lanjutan untuk mensimulasikan performa surfaktan secara dinamis dalam media berpori sekaligus memvisualisasikan mekanisme displacement secara dua dimensi.
Rangkaian pengujian ini menegaskan bahwa Chemical EOR bukan sekadar proses injeksi kimia, melainkan pendekatan ilmiah terintegrasi yang harus didukung oleh data laboratorium yang kuat dan representatif.
Menjembatani Riset dan Implementasi Lapangan
Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga wawasan praktis tentang bagaimana hasil riset dan pengujian laboratorium dapat diterjemahkan menjadi strategi EOR yang siap diterapkan di lapangan.
Diskusi turut mengulas tantangan umum dalam implementasi Chemical EOR, antara lain:
- Adsorpsi dan degradasi polimer,
- Sensitivitas surfaktan terhadap salinitas dan temperatur,
- Risiko plugging, scaling, dan korosi,
- Aspek keekonomian serta kesiapan fasilitas permukaan.
Berbagai studi kasus dan lesson learned dari implementasi EOR di dalam maupun luar negeri memperkaya perspektif peserta terhadap kompleksitas sekaligus peluang teknologi ini.


Membuka Peluang Kolaborasi Strategis
Melalui kegiatan ini, OGRINDO ITB dan Laboratorium EOR ITB menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan teknologi EOR berbasis riset, pengujian laboratorium, dan kolaborasi erat dengan industri.
Peluang kerja sama terbuka untuk:
- Riset dan pengembangan Chemical EOR,
- Surfactant screening dan evaluasi laboratorium,
- Studi kelayakan EOR,
- Pelatihan teknis dan konsultansi,
- Proyek kolaborasi industriāakademia.

š© Kontak kerja sama:
OGRINDO ITB: info@ogrindoitb.com
Laboratorium EOR ITB: labifteoritb@gmail.com
Training ini menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara riset, laboratorium, dan industri dapat mempercepat adopsi teknologi EOR yang aplikatif, efektif, dan berkelanjutan guna mendukung ketahanan energi nasional.







