Kategori
News Article

Training HPLC – RID Part 2: Hands-on Operasional Sistem dan Analisis Sampel Polimer

Analisis menggunakan High Performance Liquid Chromatography (HPLC) dengan Refractive Index Detector (RID) menjadi salah satu metode penting dalam karakterisasi chemical EOR seperti surfaktan dan polimer, khususnya untuk mendukung kebutuhan riset dan aplikasi Enhanced Oil Recovery (EOR). Penguasaan metode ini tidak hanya membutuhkan pemahaman teori, tetapi juga kemampuan operasional instrumen dan interpretasi data secara akurat. Oleh karena itu, OGRINDO ITB bersama Laboratorium EOR ITB menyelenggarakan Training HPLC–RID Part 2 yang berfokus pada praktik langsung serta pengoperasian sistem secara komprehensif, termasuk pengaturan metode, pengoperasian sistem, hingga penanganan kendala selama pengujian.

Gambar 1. Pelatihan HPLC–RID Part 2 bersama PT. Berca Niaga Medika dan tim Laboratorium EOR ITB dan OGRINDO ITB.

Praktik Operasional dan Pengaturan Sistem HPLC–RID

Penguasaan instrumen tidak berhenti pada memahami teori—tetapi pada kemampuan menjalankan sistem secara langsung dan membaca responnya secara real-time.

Pada sesi ini, pelatihan difokuskan pada praktik langsung pengoperasian sistem HPLC–RID secara menyeluruh. Peserta memulai dari tahapan awal pengoperasian instrumen hingga proses analisis berjalan, dengan menekankan prosedur kerja yang sistematis dan aman.

Kegiatan diawali dengan:

  • Prosedur menyalakan instrumen sesuai urutan operasional
  • Memastikan kondisi sistem dalam status siap
  • Mengenali indikator pada software maupun instrumen sebagai tanda sistem mulai berjalan

Selanjutnya, peserta melakukan:

  • Pengecekan kesiapan sistem sebelum analisis
  • Pengaturan metode pada software, baik untuk akuisisi maupun data processing
  • Penyesuaian parameter penting seperti baseline, waktu retensi, dan integrasi puncak

Selama proses ini, peserta juga mengamati secara langsung respon sistem terhadap setiap pengaturan yang dilakukan. Hal ini menjadi penting untuk memahami bagaimana perubahan parameter dapat memengaruhi hasil kromatogram.

Selain itu, pelatihan juga menekankan pada kondisi yang sering muncul saat pengujian berlangsung, seperti baseline yang tidak stabil, noise pada sinyal, atau puncak yang tidak terbaca dengan optimal. Peserta diarahkan untuk mengenali gejala tersebut serta memahami langkah penanganan awal agar proses analisis tetap berjalan dengan baik.

Pendekatan praktik ini menjadi kunci dalam membangun kepercayaan diri peserta untuk mengoperasikan HPLC–RID secara mandiri di lingkungan laboratorium.

Gambar 3. Proses pengaturan metode dan analisis data menggunakan software HPLC untuk akuisisi dan interpretasi kromatogram.

Hands-on Analisis Sampel Polimer

Setelah memahami operasional sistem dan pengaturan metode, peserta kemudian mengaplikasikan langsung pengetahuan tersebut melalui pengujian sampel polimer untuk melihat performa sistem secara nyata.

Sebagai bagian utama dari pelatihan, dilakukan pengujian sampel polimer dengan beberapa variasi konsentrasi untuk mengevaluasi respon detektor RID serta konsistensi metode analisis yang digunakan.

Hasil kromatogram menunjukkan bahwa puncak polimer terdeteksi secara konsisten pada waktu retensi sekitar 6,6 – 6,9 menit, yang mengindikasikan kondisi sistem yang stabil selama proses analisis.

Selain itu, terlihat tren peningkatan luas area seiring dengan kenaikan konsentrasi sampel, yang menunjukkan bahwa respon detektor berjalan secara proporsional terhadap jumlah sampel yang diuji.
Ringkasan Hasil Uji Polimer
60 ppm | RT: 6,898 menit | Area: 9.950
80 ppm | RT: 6,910 menit | Area: 12.414
100 ppm | RT: 6,677 menit | Area: 15.431

Gambar 5. Kromatogram hasil analisis HPLC–RID pada sampel polimer (60 ppm) yang menunjukkan puncak utama pada waktu retensi sekitar 6,898 menit.
Gambar 6. Kromatogram hasil analisis HPLC–RID pada sampel polimer (80 ppm) yang menunjukkan puncak utama pada waktu retensi sekitar 6,910 menit.

Analisis Singkat Hasil Pengujian

Hasil pengujian menunjukkan bahwa metode yang digunakan telah memberikan respon yang konsisten dan dapat diandalkan. Waktu retensi yang relatif stabil pada setiap variasi konsentrasi menandakan kondisi sistem yang terjaga dengan baik selama analisis berlangsung.

Di sisi lain, peningkatan nilai area yang sejalan dengan kenaikan konsentrasi menunjukkan bahwa detektor RID mampu memberikan respon yang proporsional terhadap jumlah polimer yang dianalisis. Hal ini menjadi indikator bahwa metode memiliki potensi yang baik untuk digunakan dalam analisis kuantitatif.

Namun demikian, pada tahap ini kurva kalibrasi belum diterapkan, sehingga hasil yang diperoleh masih bersifat indikatif dan belum digunakan untuk kuantifikasi absolut.

Peningkatan Kompetensi Analisa Laboratorium

Melalui sesi hands-on ini, peserta memperoleh pengalaman praktis dalam menjalankan analisis HPLC–RID secara menyeluruh, mulai dari pengoperasian sistem hingga interpretasi data hasil uji. Peserta juga belajar memahami hubungan antara parameter metode, kondisi instrumen, dan kualitas kromatogram yang dihasilkan.

Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kemampuan analitis yang dibutuhkan dalam kegiatan riset maupun pengujian di laboratorium.

Penutup

Training HPLC–RID Part 2 memberikan pemahaman komprehensif mengenai operasional sistem dan analisis sampel polimer melalui praktik langsung. Dengan kombinasi antara penguasaan instrumen, pemahaman metode, serta interpretasi data, pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas analisis dan kesiapan sumber daya manusia dalam mendukung kebutuhan industri dan penelitian, khususnya di bidang EOR.

Tertarik Berkolaborasi?

OGRINDO ITB dan Laboratorium EOR ITB membuka peluang kerja sama dalam bentuk pelatihan, penelitian, maupun layanan analisis laboratorium yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan industri dan akademisi.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
📧 OGRINDO ITB: info@ogrindoitb.com
📧 Laboratorium EOR ITB: eor@itb.ac.id

Tingkatkan kualitas analisis Anda bersama kami melalui pelatihan dan kolaborasi berbasis riset dan praktik terbaik.

Kategori
News Article

Training Surfactant Screening for EOR: Mengubah Hasil Riset menjadi Strategi EOR yang Aplikatif

Upaya peningkatan produksi minyak dan gas nasional di tengah penurunan produksi lapangan eksisting menuntut penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) yang semakin matang, terukur, dan berbasis riset. Menjawab tantangan tersebut, telah diselenggarakan Training Surfactant Screening for Enhanced Oil Recovery (EOR) pada Selasa, 9 Desember 2025, bertempat di Best Western Premier The Hive, Cawang, DKI Jakarta.

Pelatihan ini menghadirkan Ir. Mahruri, S.T., M.Sc., Project Manager Laboratorium EOR ITB sekaligus Peneliti OGRINDO ITB, sebagai pemateri. Kegiatan diselenggarakan oleh KOPUM IATMI (Koperasi Jasa Usaha Mandiri Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia) dan diikuti oleh para profesional dari Pertamina RTI.

Pelatihan ini menjadi momentum strategis dalam meningkatkan kapasitas teknis serta memperkuat kompetensi para profesional perminyakan, khususnya untuk mendukung pengembangan dan optimalisasi penerapan teknologi EOR di berbagai wilayah kerja migas Indonesia.

Gambar 1. Ir. Mahruri, S.T., M.Sc. menyampaikan konsep fundamental Chemical Enhanced Oil Recovery (C-EOR).

Urgensi Penerapan EOR di Lapangan Migas Indonesia

Pada sesi pembuka, Ir. Mahruri memaparkan gambaran komprehensif mengenai tahapan produksi minyak—mulai dari primary recovery, secondary recovery, hingga Enhanced Oil Recovery. Disampaikan bahwa meskipun metode waterflood dan gas flood telah banyak diterapkan, porsi minyak signifikan masih tertinggal di reservoir akibat keterbatasan mekanisme displacement konvensional.

Dalam konteks ini, EOR hadir sebagai solusi strategis untuk:

  • Menguras residual oil yang terperangkap secara mikroskopis,
  • Meningkatkan recovery factor,
  • Memperpanjang umur lapangan migas eksisting.

Secara global, kontribusi EOR terhadap produksi minyak dunia terus meningkat, terutama di negara-negara dengan lapangan mature. Indonesia memiliki potensi besar untuk mengoptimalkan EOR, khususnya Chemical EOR, baik pada reservoir sandstone maupun karbonat.

Chemical EOR dan Peran Strategis Surfaktan

Fokus utama training ini adalah Chemical EOR, dengan penekanan pada surfactant flooding. Secara fundamental, Chemical EOR bertujuan memodifikasi sifat fisika-kimia fluida dan batuan reservoir melalui injeksi bahan kimia seperti alkali, surfaktan, dan polimer.

Ir. Mahruri menjelaskan bahwa surfaktan memegang peranan krusial dalam:

  • Menurunkan interfacial tension (IFT) antara minyak dan air hingga mencapai kondisi ultra-low IFT,
  • Membentuk mikroemulsi yang mampu memobilisasi residual oil,
  • Mengubah kebasahan batuan (wettability alteration),
  • Meningkatkan efisiensi displacement dan proses imbibisi.

Keberhasilan surfactant flooding sangat bergantung pada proses screening dan evaluasi laboratorium yang komprehensif, sehingga surfaktan yang diaplikasikan benar-benar kompatibel dengan karakteristik reservoir.

Surfactant Screening: Dari Konsep hingga Evaluasi Laboratorium

Salah satu keunggulan utama pelatihan ini adalah pembahasan mendalam mengenai alur surfactant screening berbasis laboratorium, mencakup interaksi fluid–fluid dan rock–fluid, serta kinerja kimia dalam media berpori.
Beberapa pengujian penting yang dibahas meliputi:

  1. CMC–IFT Test
    Menentukan konsentrasi optimum surfaktan untuk menghasilkan nilai IFT terendah. Surfaktan yang unggul diharapkan mampu mencapai ultra-low IFT (<10⁻² mN/m) pada konsentrasi yang ekonomis.
  2. Aqueous Stability Test
    Mengukur kestabilan dan kompatibilitas surfaktan dalam brine injeksi maupun native brine reservoir guna menghindari risiko presipitasi dan plugging.
  3. Phase Behavior Test
    Mengevaluasi pembentukan mikroemulsi (Winsor Type III) sebagai indikator utama efektivitas surfaktan dalam memobilisasi minyak sisa.
  4. Thermal Stability & Filtration Test
    Memastikan stabilitas surfaktan pada suhu reservoir serta meminimalkan potensi gangguan injektivitas selama proses injeksi.
  5. Wettability, Adsorption, dan Imbibition Test
    Menilai kemampuan surfaktan dalam mengubah kebasahan batuan serta meminimalkan kehilangan surfaktan akibat adsorpsi.
  6. Coreflooding dan Micromodel
    Tahapan lanjutan untuk mensimulasikan performa surfaktan secara dinamis dalam media berpori sekaligus memvisualisasikan mekanisme displacement secara dua dimensi.

Rangkaian pengujian ini menegaskan bahwa Chemical EOR bukan sekadar proses injeksi kimia, melainkan pendekatan ilmiah terintegrasi yang harus didukung oleh data laboratorium yang kuat dan representatif.

Menjembatani Riset dan Implementasi Lapangan

Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga wawasan praktis tentang bagaimana hasil riset dan pengujian laboratorium dapat diterjemahkan menjadi strategi EOR yang siap diterapkan di lapangan.

Diskusi turut mengulas tantangan umum dalam implementasi Chemical EOR, antara lain:

  • Adsorpsi dan degradasi polimer,
  • Sensitivitas surfaktan terhadap salinitas dan temperatur,
  • Risiko plugging, scaling, dan korosi,
  • Aspek keekonomian serta kesiapan fasilitas permukaan.

Berbagai studi kasus dan lesson learned dari implementasi EOR di dalam maupun luar negeri memperkaya perspektif peserta terhadap kompleksitas sekaligus peluang teknologi ini.

Membuka Peluang Kolaborasi Strategis

Melalui kegiatan ini, OGRINDO ITB dan Laboratorium EOR ITB menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan teknologi EOR berbasis riset, pengujian laboratorium, dan kolaborasi erat dengan industri.

Peluang kerja sama terbuka untuk:

  • Riset dan pengembangan Chemical EOR,
  • Surfactant screening dan evaluasi laboratorium,
  • Studi kelayakan EOR,
  • Pelatihan teknis dan konsultansi,
  • Proyek kolaborasi industri–akademia.
Gambar 4. Penyerahan sertifikat kepada peserta Training Surfactant Screening for Enhanced Oil Recovery (EOR) sebagai bentuk penguatan kompetensi teknis.

📩 Kontak kerja sama:

OGRINDO ITB: info@ogrindoitb.com
Laboratorium EOR ITB: labifteoritb@gmail.com

Training ini menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara riset, laboratorium, dan industri dapat mempercepat adopsi teknologi EOR yang aplikatif, efektif, dan berkelanjutan guna mendukung ketahanan energi nasional.

Kategori
News Article

Dr. Ir. Boni Swadesi, S.T., M.T., IPU: Membangun Sinergi Riset dan Inovasi EOR Bersama OGRINDO ITB

Dr. Ir. Boni Swadesi, S.T., M.T., IPU – Project Manager OGRINDO ITB yang berperan aktif dalam memperkuat riset dan kolaborasi di bidang Enhanced Oil Recovery (EOR).

Dengan pengalaman lebih dari dua dekade di dunia teknik perminyakan, Dr. Ir. Boni Swadesi, S.T., M.T., IPU merupakan salah satu sosok penting di balik penguatan riset dan pengembangan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) di Indonesia. Saat ini, beliau menjabat sebagai Project Manager OGRINDO ITB, mengoordinasikan berbagai proyek penelitian dan kolaborasi strategis antara kampus, industri, dan lembaga riset untuk mendorong penerapan teknologi EOR yang berkelanjutan.

🧠 Latar Belakang Pendidikan dan Keilmuan

Dr. Boni menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Perminyakan di UPN “Veteran” Yogyakarta, universitas tempat beliau kini mengabdi sebagai dosen sekaligus Ketua Departemen Teknik Perminyakan. Kecintaannya terhadap dunia riset membawanya melanjutkan studi Magister dan Doktor di Institut Teknologi Bandung (ITB), keduanya di bidang Teknik Perminyakan.
Penelitiannya berfokus pada mekanisme injeksi surfaktan terintegrasi untuk light oil di reservoir batu pasir, serta pengembangan model polimer injeksi 1D dan 2D untuk mengevaluasi mekanisme squeezing dan sweeping pada proses EOR.

⚙️ Kiprah dan Kontribusi Profesional

Sebagai akademisi sekaligus praktisi, Dr. Boni aktif terlibat dalam berbagai proyek riset unggulan di EOR Lab ITB, LAPI ITB, dan OGRINDO ITB. Beberapa proyek penting yang Dr. Boni pimpin atau koordinasikan antara lain:

  • Field Trial Polymer Injection Lapangan Tanjung – Pertamina EP, mencakup implementasi, evaluasi, dan monitoring lapangan.
  • Studi Optimasi Kimia EOR Lapangan Kaji Semoga (PT Medco E&P) serta Lapangan Kenali Asam dan Tempino (PT Pertamina EP).
  • Formulasi dan Pengembangan Micromodel cEOR, teknologi miniatur untuk studi injeksi kimia skala laboratorium yang kini menjadi salah satu fasilitas riset unggulan di ITB.

Sebagai peneliti yang produktif, Dr. Boni telah berkontribusi dalam berbagai publikasi ilmiah di jurnal nasional maupun internasional, membahas topik-topik seperti perilaku fluida reservoir, mekanika reservoir, serta pengembangan model eksperimental dan numerik untuk optimasi injeksi kimia.

Dr. Boni Swadesi saat mempresentasikan studi tentang karakteristik surfaktan pada light oil untuk aplikasi EOR di era energi terbarukan.

🤝 Peran Strategis di OGRINDO ITB

Dalam kapasitasnya sebagai Project Manager OGRINDO ITB, Dr. Boni berperan penting dalam memperkuat posisi OGRINDO sebagai wadah kolaborasi riset dan inovasi energi nasional. Dr. Boni memastikan setiap penelitian tidak berhenti di tahap laboratorium, melainkan dapat diimplementasikan di lapangan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi energi nasional.
Selain itu, Dr. Boni juga aktif menjalin kemitraan strategis dengan industri migas seperti Pertamina Subholding Upstream dan Medco E&P, serta mendorong integrasi riset EOR dengan pengembangan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS).

🌱 Dedikasi untuk Pendidikan dan Inovasi

Di tengah kesibukannya, Dr. Boni tetap konsisten membimbing mahasiswa dan peneliti muda di bidang reservoir engineering dan chemical EOR. Baginya, keberhasilan riset tidak hanya diukur dari hasil teknis, tetapi juga dari kemampuan menumbuhkan generasi insinyur energi yang kompeten, berintegritas, dan berwawasan keberlanjutan.

Dr. Boni Swadesi berbagi wawasan riset EOR dan mendorong kolaborasi lintas disiplin di forum akademik dan industri energi.

Dengan semangat kolaboratif dan visi yang kuat, Dr. Ir. Boni Swadesi, S.T., M.T., IPU menjadi contoh nyata bahwa riset dan inovasi dapat berjalan beriringan untuk mendukung kemandirian energi nasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan teknologi migas berkelanjutan.