Kategori
News Article

Lab EOR ITB Internship Program

Sebagai bagian dari komitmen berkelanjutan dalam pengembangan sumber daya manusia dan penguatan ekosistem riset energi, Laboratorium Enhanced Oil Recovery (EOR) ITB secara resmi menyelenggarakan Lab EOR ITB Internship Program untuk pertama kalinya. Program magang ini dirancang sebagai wadah pembelajaran terintegrasi yang menjembatani dunia akademik dengan praktik nyata di laboratorium riset profesional.

Program ini diikuti oleh empat mahasiswa terpilih yang berasal dari Program Studi Teknik Perminyakan UPN Veteran Yogyakarta, setelah melalui proses seleksi yang kompetitif. Kehadiran program ini diharapkan menjadi langkah awal yang strategis dalam mencetak calon peneliti dan praktisi energi masa depan yang unggul, adaptif, dan berintegritas.

Gambar 1. Sesi pembukaan Lab EOR ITB Internship Program yang diawali dengan perkenalan peserta, pengarahan program, serta pembacaan aturan dan tata tertib kegiatan laboratorium.

Latar Belakang dan Tujuan Program

Industri energi, khususnya sektor hulu migas dan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR), menuntut sumber daya manusia yang tidak hanya kuat secara teori, tetapi juga terampil secara praktis. Menyadari kebutuhan tersebut, Lab EOR ITB menghadirkan program magang ini dengan sejumlah tujuan utama, antara lain:

  1. Membekali mahasiswa dengan pengalaman kerja nyata dan pengujian di laboratorium EOR,
  2. Memberikan kesempatan untuk terlibat langsung dalam hands-on projects berbasis riset dan eksperimen,
  3. Melatih dan mengembangkan soft skills mahasiswa, seperti komunikasi, kerja tim, problem solving, dan etika profesional,
  4. Memperkuat fundamental concept di bidang teknik perminyakan dan Chemical EOR melalui pendekatan aplikatif.

Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya belajar how it works, tetapi juga why it matters dalam konteks riset dan industri.

Gambar 2. Peserta Internship Lab EOR ITB sedang mengamati operasi instrumen laboratorium, belajar langsung lewat praktik di meja kerja.

Bagian dari Community Service dan Pengabdian Masyarakat

Lebih dari sekadar program akademik, Lab EOR ITB Internship Program merupakan wujud nyata kepedulian Lab EOR ITB terhadap komunitas. Program ini menjadi bagian dari inisiatif Community Service, di mana laboratorium tidak hanya berfokus pada proyek riset dan kerja sama industri, tetapi juga pada pengabdian kepada masyarakat melalui pendidikan dan pengembangan talenta muda.

Dalam konteks ini, Lab EOR ITB membuka akses pembelajaran yang inklusif, terstruktur, dan berkualitas bagi mahasiswa, sebagai kontribusi nyata dalam memperkuat ekosistem riset nasional.

Gambar 3. Peserta Internship Lab EOR ITB fokus memperhatikan dan mencatat penjelasan tentang kegiatan riset laboratorium.

Proses Seleksi yang Kompetitif dan Transparan

Antusiasme terhadap program ini tercermin dari tingginya jumlah pendaftar. Pada batch perdana ini:

  • 80 mahasiswa Teknik Perminyakan mendaftarkan diri pada tahap awal,
  • Melalui seleksi administrasi, disaring menjadi 10 mahasiswa terbaik,
  • Tahap akhir dilakukan melalui proses Focus Group Discussion (FGD) untuk menilai kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan kesiapan berkolaborasi.

Seluruh peserta pada program perdana ini berasal dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta. Dari keseluruhan proses tersebut, akhirnya terpilih 4 mahasiswa yang dinilai paling sesuai dengan tujuan dan kebutuhan program.

Proses seleksi ini dirancang untuk memastikan bahwa peserta tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki motivasi, etika kerja, dan potensi berkembang yang kuat.

Gambar 4. Peserta Internship Lab EOR ITB mengamati langsung penggunaan peralatan dan sampel laboratorium.

Kolaborasi dan Kontribusi Bersama OGRINDO ITB

Meskipun merupakan program yang diinisiasi oleh Lab EOR ITB, pelaksanaan internship ini juga tidak terlepas dari kontribusi ekosistem riset yang lebih luas, termasuk OGRINDO ITB. Program ini mencerminkan sinergi antara laboratorium akademik dan kelompok riset terapan dalam mendukung pengembangan kapasitas mahasiswa.

Kontribusi ini sejalan dengan visi OGRINDO ITB dalam mendorong riset yang berdampak, penguatan kompetensi SDM, serta keberlanjutan pengembangan teknologi energi di Indonesia.

Harapan dan Dampak Jangka Panjang

Melalui Lab EOR ITB Internship Program, diharapkan para peserta dapat membawa pulang pengalaman berharga yang menjadi bekal penting dalam perjalanan akademik maupun profesional mereka. Di sisi lain, program ini juga diharapkan menjadi fondasi bagi penyelenggaraan program magang yang berkelanjutan dan semakin inklusif di masa mendatang.

Ke depan, Lab EOR ITB membuka peluang untuk menerima mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia, guna memperluas dampak program dan memperkuat jejaring kolaborasi akademik nasional. Inisiatif ini sejalan dengan semangat pengabdian dan pengembangan talenta muda di bidang energi.

Lab EOR ITB percaya bahwa investasi terbaik untuk masa depan energi adalah melalui pengembangan manusia. Internship Program ini menjadi langkah awal dalam perjalanan panjang tersebut.

Gambar 6. Suasana lab penuh semangat! Mahasiswa magang EOR ITB berdiskusi, melakukan eksperimen, dan belajar bersama dalam program internship.

Informasi dan Peluang Kolaborasi

Lab EOR ITB mengundang mahasiswa, akademisi, serta mitra industri untuk terus mengikuti perkembangan Lab EOR ITB Internship Program dan berbagai inisiatif riset lainnya. Bagi institusi pendidikan maupun organisasi yang tertarik untuk berkolaborasi, membuka peluang magang, atau menjajaki kerja sama riset dan pengabdian masyarakat, kami terbuka untuk berdiskusi lebih lanjut.


Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
📧 OGRINDO ITB: info@ogrindoitb.com
📧 Lab EOR ITB: labifteoritb@gmail.com
Mari bersama-sama berkontribusi dalam pengembangan talenta muda dan kemajuan riset energi nasional.

Kategori
News Article

Ivan Kurnia, S.T., M.Sc., Ph.D.: Menguatkan Riset Chemical EOR dan Transisi Energi di OGRINDO ITB

Dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di bidang teknik perminyakan, Ivan Kurnia, S.T., M.Sc., Ph.D. merupakan peneliti senior OGRINDO ITB dengan rekam jejak yang kuat dalam riset Chemical Enhanced Oil Recovery (EOR), revitalisasi lapangan minyak mature, serta Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS). Ia telah menghasilkan berbagai publikasi ilmiah di jurnal internasional bereputasi serta terlibat aktif dalam proyek riset dan kolaborasi industri berskala nasional maupun internasional.

Gambar 1. Ivan Kurnia, S.T., M.Sc., Ph.D. sebagai Senior Researcher Ogrindo ITB.

Latar Belakang Pendidikan

Dr. Ivan Kurnia menempuh pendidikan formal di bidang Teknik Perminyakan melalui jalur akademik yang kuat dan berjenjang. Beliau meraih gelar Sarjana Teknik (S.T.) dari Institut Teknologi Bandung (ITB), kemudian melanjutkan studi Master of Science (M.Sc.) dan Doctor of Philosophy (Ph.D.) di New Mexico Institute of Mining and Technology, Amerika Serikat—sebuah institusi yang dikenal memiliki keunggulan dalam riset reservoir dan enhanced oil recovery.

Sebagai pengakuan atas kompetensi profesionalnya, Dr. Ivan juga telah menyelesaikan Program Profesi Insinyur (Engineer) Bidang Teknik Perminyakan di ITB, yang semakin memperkuat perannya sebagai akademisi sekaligus praktisi.

Kepakaran Riset dan Kontribusi Ilmiah

Saat ini, Dr. Ivan aktif sebagai dosen dan peneliti di Institut Teknologi Bandung, sekaligus menjalankan peran strategis sebagai Senior Researcher di OGRINDO ITB. Fokus keahliannya meliputi:

  • Chemical Enhanced Oil Recovery (EOR), termasuk formulasi surfaktan, pengukuran interfacial tension (IFT), analisis phase behavior, dan uji coreflood
  • Revitalisasi lapangan minyak mature
  • Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS)
  • Pemodelan dan simulasi reservoir

Kontribusi riset Dr. Ivan telah dipublikasikan dalam berbagai jurnal internasional bereputasi dan forum ilmiah global, dengan topik yang mencakup sinergi surfaktan–nanopartikel untuk EOR, desain salinitas pada proses alkali–surfactant–polymer (ASP) flooding, hingga pembelajaran dari eksperimen coreflood surfactant–polymer dan alkali–surfactant–polymer. Publikasi tersebut menjadi landasan ilmiah penting bagi pengembangan teknologi EOR yang aplikatif dan berbasis data.

Pengalaman Proyek dan Kolaborasi Industri

Selain aktivitas akademik, Dr. Ivan memiliki pengalaman luas dalam proyek-proyek terapan dan layanan industri. Beliau terlibat dalam berbagai studi chemical EOR, CCUS, gas injection, dan pemodelan reservoir, serta berpengalaman bekerja dalam tim multidisiplin yang melibatkan akademisi, operator migas, dan pemangku kepentingan lainnya.

Gambar 2. Dr. Ivan bersama tim dalam diskusi riset dan koordinasi proyek industri.

Beliau juga berperan sebagai penanggung jawab dan pengelola peralatan laboratorium strategis, seperti sistem gasflood dan slim tube apparatus, yang mendukung kegiatan riset eksperimental dan studi kelayakan teknologi EOR di OGRINDO ITB. Melalui pendekatan yang mengintegrasikan riset fundamental dan kebutuhan lapangan, Dr. Ivan berkontribusi dalam menghasilkan rekomendasi teknis yang inovatif sekaligus realistis untuk diimplementasikan oleh industri.

Selain perannya dalam riset dan kolaborasi industri, Dr. Ivan Kurnia juga dipercaya menjalankan peran organisasi sebagai Wakil Koordinator Bidang Audit Internal. Dalam kapasitas ini, ia berkontribusi dalam penguatan tata kelola, transparansi, serta akuntabilitas pelaksanaan kegiatan riset dan layanan profesional, sehingga mendukung keberlanjutan dan kredibilitas institusi.

Gambar 3. Dr. Ivan sedang melaksanakan audit iternal di Departemen Teknik Perminyakan.

Peran Kepemimpinan dan Kontribusi Global

Komitmen Dr. Ivan terhadap pengembangan komunitas energi tidak hanya tercermin dari aktivitas riset, tetapi juga dari peran kepemimpinannya di tingkat internasional. Pada September 2025, ia dipercaya sebagai Ketua Pelaksana International Conference on Green Energy and Resources Engineering (ICGERE).

Konferensi ini menjadi wadah strategis yang mempertemukan akademisi, praktisi industri, dan pengambil kebijakan dari berbagai negara untuk membahas inovasi teknologi, pengelolaan sumber daya, dan masa depan energi berkelanjutan. Peran ini menegaskan kapasitas Dr. Ivan sebagai penghubung antara riset, industri, dan kebijakan energi global.

Menguatkan Peran OGRINDO ITB dalam Riset dan Transisi Energi

Dengan kombinasi pendidikan internasional, pengalaman lebih dari 15 tahun, publikasi ilmiah bereputasi, keterlibatan aktif dalam proyek industri, serta kepemimpinan profesional, Ivan Kurnia, S.T., M.Sc., Ph.D. menjadi salah satu pilar penting dalam penguatan kapasitas riset dan layanan OGRINDO ITB.

Melalui pendekatan kolaboratif dan berbasis sains, OGRINDO ITB siap menjadi mitra strategis bagi industri, pemerintah, dan institusi akademik dalam pengembangan teknologi EOR, pengelolaan reservoir mature, serta inisiatif transisi energi.

📩 Tertarik untuk berkolaborasi dengan OGRINDO ITB?

Silakan hubungi kami melalui email info@ogrindoitb.com atau kunjungi www.ogrindoitb.com untuk informasi lebih lanjut.

Kategori
News Article

Training Surfactant Screening for EOR: Mengubah Hasil Riset menjadi Strategi EOR yang Aplikatif

Upaya peningkatan produksi minyak dan gas nasional di tengah penurunan produksi lapangan eksisting menuntut penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) yang semakin matang, terukur, dan berbasis riset. Menjawab tantangan tersebut, telah diselenggarakan Training Surfactant Screening for Enhanced Oil Recovery (EOR) pada Selasa, 9 Desember 2025, bertempat di Best Western Premier The Hive, Cawang, DKI Jakarta.

Pelatihan ini menghadirkan Ir. Mahruri, S.T., M.Sc., Project Manager Laboratorium EOR ITB sekaligus Peneliti OGRINDO ITB, sebagai pemateri. Kegiatan diselenggarakan oleh KOPUM IATMI (Koperasi Jasa Usaha Mandiri Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia) dan diikuti oleh para profesional dari Pertamina RTI.

Pelatihan ini menjadi momentum strategis dalam meningkatkan kapasitas teknis serta memperkuat kompetensi para profesional perminyakan, khususnya untuk mendukung pengembangan dan optimalisasi penerapan teknologi EOR di berbagai wilayah kerja migas Indonesia.

Gambar 1. Ir. Mahruri, S.T., M.Sc. menyampaikan konsep fundamental Chemical Enhanced Oil Recovery (C-EOR).

Urgensi Penerapan EOR di Lapangan Migas Indonesia

Pada sesi pembuka, Ir. Mahruri memaparkan gambaran komprehensif mengenai tahapan produksi minyak—mulai dari primary recovery, secondary recovery, hingga Enhanced Oil Recovery. Disampaikan bahwa meskipun metode waterflood dan gas flood telah banyak diterapkan, porsi minyak signifikan masih tertinggal di reservoir akibat keterbatasan mekanisme displacement konvensional.

Dalam konteks ini, EOR hadir sebagai solusi strategis untuk:

  • Menguras residual oil yang terperangkap secara mikroskopis,
  • Meningkatkan recovery factor,
  • Memperpanjang umur lapangan migas eksisting.

Secara global, kontribusi EOR terhadap produksi minyak dunia terus meningkat, terutama di negara-negara dengan lapangan mature. Indonesia memiliki potensi besar untuk mengoptimalkan EOR, khususnya Chemical EOR, baik pada reservoir sandstone maupun karbonat.

Chemical EOR dan Peran Strategis Surfaktan

Fokus utama training ini adalah Chemical EOR, dengan penekanan pada surfactant flooding. Secara fundamental, Chemical EOR bertujuan memodifikasi sifat fisika-kimia fluida dan batuan reservoir melalui injeksi bahan kimia seperti alkali, surfaktan, dan polimer.

Ir. Mahruri menjelaskan bahwa surfaktan memegang peranan krusial dalam:

  • Menurunkan interfacial tension (IFT) antara minyak dan air hingga mencapai kondisi ultra-low IFT,
  • Membentuk mikroemulsi yang mampu memobilisasi residual oil,
  • Mengubah kebasahan batuan (wettability alteration),
  • Meningkatkan efisiensi displacement dan proses imbibisi.

Keberhasilan surfactant flooding sangat bergantung pada proses screening dan evaluasi laboratorium yang komprehensif, sehingga surfaktan yang diaplikasikan benar-benar kompatibel dengan karakteristik reservoir.

Surfactant Screening: Dari Konsep hingga Evaluasi Laboratorium

Salah satu keunggulan utama pelatihan ini adalah pembahasan mendalam mengenai alur surfactant screening berbasis laboratorium, mencakup interaksi fluid–fluid dan rock–fluid, serta kinerja kimia dalam media berpori.
Beberapa pengujian penting yang dibahas meliputi:

  1. CMC–IFT Test
    Menentukan konsentrasi optimum surfaktan untuk menghasilkan nilai IFT terendah. Surfaktan yang unggul diharapkan mampu mencapai ultra-low IFT (<10⁻² mN/m) pada konsentrasi yang ekonomis.
  2. Aqueous Stability Test
    Mengukur kestabilan dan kompatibilitas surfaktan dalam brine injeksi maupun native brine reservoir guna menghindari risiko presipitasi dan plugging.
  3. Phase Behavior Test
    Mengevaluasi pembentukan mikroemulsi (Winsor Type III) sebagai indikator utama efektivitas surfaktan dalam memobilisasi minyak sisa.
  4. Thermal Stability & Filtration Test
    Memastikan stabilitas surfaktan pada suhu reservoir serta meminimalkan potensi gangguan injektivitas selama proses injeksi.
  5. Wettability, Adsorption, dan Imbibition Test
    Menilai kemampuan surfaktan dalam mengubah kebasahan batuan serta meminimalkan kehilangan surfaktan akibat adsorpsi.
  6. Coreflooding dan Micromodel
    Tahapan lanjutan untuk mensimulasikan performa surfaktan secara dinamis dalam media berpori sekaligus memvisualisasikan mekanisme displacement secara dua dimensi.

Rangkaian pengujian ini menegaskan bahwa Chemical EOR bukan sekadar proses injeksi kimia, melainkan pendekatan ilmiah terintegrasi yang harus didukung oleh data laboratorium yang kuat dan representatif.

Menjembatani Riset dan Implementasi Lapangan

Melalui pelatihan ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga wawasan praktis tentang bagaimana hasil riset dan pengujian laboratorium dapat diterjemahkan menjadi strategi EOR yang siap diterapkan di lapangan.

Diskusi turut mengulas tantangan umum dalam implementasi Chemical EOR, antara lain:

  • Adsorpsi dan degradasi polimer,
  • Sensitivitas surfaktan terhadap salinitas dan temperatur,
  • Risiko plugging, scaling, dan korosi,
  • Aspek keekonomian serta kesiapan fasilitas permukaan.

Berbagai studi kasus dan lesson learned dari implementasi EOR di dalam maupun luar negeri memperkaya perspektif peserta terhadap kompleksitas sekaligus peluang teknologi ini.

Membuka Peluang Kolaborasi Strategis

Melalui kegiatan ini, OGRINDO ITB dan Laboratorium EOR ITB menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan teknologi EOR berbasis riset, pengujian laboratorium, dan kolaborasi erat dengan industri.

Peluang kerja sama terbuka untuk:

  • Riset dan pengembangan Chemical EOR,
  • Surfactant screening dan evaluasi laboratorium,
  • Studi kelayakan EOR,
  • Pelatihan teknis dan konsultansi,
  • Proyek kolaborasi industri–akademia.
Gambar 4. Penyerahan sertifikat kepada peserta Training Surfactant Screening for Enhanced Oil Recovery (EOR) sebagai bentuk penguatan kompetensi teknis.

📩 Kontak kerja sama:

OGRINDO ITB: info@ogrindoitb.com
Laboratorium EOR ITB: labifteoritb@gmail.com

Training ini menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara riset, laboratorium, dan industri dapat mempercepat adopsi teknologi EOR yang aplikatif, efektif, dan berkelanjutan guna mendukung ketahanan energi nasional.

Kategori
News Article

Optimalisasi Enhanced Oil Recovery dengan Low Salinity Water dan Nanofluida TiO₂ pada Reservoir Sandstone

Penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) terus menjadi fokus strategis dalam upaya peningkatan produksi minyak nasional, terutama pada reservoir yang memasuki tahap akhir masa produktif. Salah satu metode EOR yang saat ini menarik perhatian adalah penggunaan Low Salinity Water (LSW) sebagai fluida injeksi. Sejumlah studi membuktikan bahwa brine dengan salinitas rendah mampu memobilisasi residual oil lebih efektif dibandingkan brine bersalinitas tinggi.

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa efektivitas LSW dapat ditingkatkan melalui penambahan nanopartikel titanium dioksida (TiO₂). Riset ini menjadi penting karena data eksperimental mengenai kompatibilitas serta mekanisme sinergi keduanya pada sistem crude oil–brine–rock (COBR) masih terbatas.

Gambar 1. Ilustrasi interaksi sistem crude oil–brine–rock (COBR) pada penelitian LSW–TiO₂.

Mengapa Low Salinity Water Menjadi Lebih Efektif dengan Nanopartikel TiO₂?

Studi laboratorium terbaru menginvestigasi interaksi crude oil–brine–rock (COBR) pada rentang salinitas 500–32.000 ppm dan konsentrasi TiO₂ 0–100 ppm menggunakan sampel Berea sandstone. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan TiO₂ ke dalam LSW memicu perubahan fisikokimia yang signifikan, terutama pada parameter pH, zeta potential, dan sudut kontak, yang secara langsung memengaruhi mekanisme pelepasan minyak dari permukaan batuan.

Kombinasi ini menghasilkan nanofluida LSW–TiO₂ yang efektif dalam mengubah sifat pembasahan batuan menjadi lebih water-wet (wettability alteration). Dalam kondisi water-wet, permukaan batuan lebih mudah dibasahi oleh air, sehingga minyak yang sebelumnya terikat kuat pada permukaan pori dapat bergerak dan terproduksi dengan lebih efisien.

Gambar 2. Perubahan nilai zeta potential (ZP) pada berbagai konsentrasi TiO₂ dan tingkat salinitas.

Implikasi untuk EOR

Temuan dalam penelitian ini memperlihatkan bahwa kombinasi LSW dan nanopartikel TiO₂ memiliki potensi signifikan untuk mengoptimalkan proses EOR pada reservoir sandstone. Modifikasi sifat antarmuka—terutama melalui perubahan wettability—muncul sebagai mekanisme utama yang mendukung peningkatan mobilisasi minyak.

Kajian ini juga menunjukkan bahwa konsentrasi TiO₂ yang diuji dapat memberikan respon fisikokimia yang konsisten sehingga membuka peluang mendesain fluida injeksi yang lebih optimal untuk mendapatkan hasil peningkatan perolehan minyak yang lebih maksimal.

Selain memberikan pemahaman fundamental mengenai interaksi fluida–batuan pada kondisi salinitas rendah, hasil penelitian ini menawarkan arah baru bagi pengembangan formulasi nanofluida LSW–TiO₂ yang lebih efektif untuk aplikasi lapangan. Studi lanjutan, seperti coreflooding, menjadi rencana kedepan untuk memvalidasi implikasi dari temuan ini terhadap peningkatan oil recovery secara langsung.

🔗 Akses Paper Publikasi

Ingin memahami lebih dalam mekanisme, data eksperimental, serta analisis lengkapnya?
Paper dapat diakses di sini.

🤝 Kolaborasi Riset dan Industri

OGRINDO ITB membuka peluang kolaborasi untuk penelitian lanjutan serta kerja sama industri di bidang EOR, nanoteknologi, dan kimia reservoir.
Hubungi kami melalui: 📩 info@ogrindoitb.com

Kategori
News Article

ITB Energy Transition Summit 2025: Mendorong Akselerasi Transisi Energi Indonesia Melalui Kolaborasi Multi-Sektor

Bandung, 13 November 2025 — Sejumlah peneliti OGRINDO ITB turut hadir dalam ITB Energy Transition Summit 2025, sebuah forum akademik dan pemangku kepentingan yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Bandung dan diorganisasi oleh KK Teknik Pemboran, Produksi, dan Manajemen Migas (TPPMM) sebagai wadah kolaborasi ilmiah untuk mendorong percepatan transisi energi nasional. Acara ini mempertemukan pemerintah, industri energi, lembaga riset, akademisi, dan mahasiswa untuk membahas arah kebijakan, tantangan, serta peluang strategis transisi energi dan ketahanan energi Indonesia.

Sebagai bentuk kontribusi institusional, acara ini dirancang untuk memperkuat dukungan ITB terhadap upaya pemerintah dalam mempercepat proses transisi energi nasional. Forum ini diharapkan menjadi ruang dialog strategis untuk melahirkan rekomendasi kebijakan, memperkuat sinergi lintas sektor, dan mendorong implementasi strategi menuju sistem energi Indonesia yang lebih bersih, modern, dan berkelanjutan.

🎤 Pembukaan dan Keynote: Menggugah Kesadaran, Menajamkan Arah Perubahan

Gambar 1. Pembukaan ITB Energy Transition Summit 2025 oleh Prof. Syafrizal serta keynote speech oleh Prof. Purnomo Yusgiantoro mengenai urgensi transisi energi untuk ketahanan energi nasional.

Acara dimulai dengan sambutan dari Prof. Dr. Eng. Ir. Syafrizal, S.T., M.T., IPM, selaku Dekan FTTM ITB yang mewakili Rektor ITB. Dalam pembukaannya, beliau menekankan peran penting perguruan tinggi dalam menghasilkan landasan ilmiah, riset strategis, dan inovasi teknologi yang dapat mendukung percepatan transisi energi.

Suasana forum semakin hidup saat Prof. Ir. Purnomo Yusgiantoro, M.Sc., MA, Ph.D. menyampaikan keynote speech yang menyoroti posisi strategis Indonesia dalam peta transisi dan ketahanan energi global. Beliau menegaskan bahwa transisi energi bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah urgensi dan keniscayaan untuk memastikan masa depan yang berkelanjutan, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Dalam paparannya, Prof. Purnomo menekankan bahwa keberhasilan Indonesia tidak hanya bertumpu pada kesiapan teknologi, tetapi juga pada kemampuan membangun ekosistem kolaboratif yang terintegrasi—melibatkan pemerintah, industri, lembaga riset, serta generasi muda sebagai penggerak inovasi. Perspektif ini selaras dengan arah besar transformasi energi Indonesia yang membutuhkan sinergi lintas sektor, percepatan inovasi, dan keberlanjutan kebijakan jangka panjang.

Transisi ke sesi panel kemudian memperdalam pembahasan melalui analisis teknis dan strategis dari perspektif kebijakan, industri, dan akademisi.

🧭 Panel Sesi 1: Menyatukan Kebijakan, Ekosistem, dan Inisiatif Transisi Energi

Panel pertama, bertajuk “Energy Transition, Ecosystem, Initiative, Policies for Indonesia”, dipandu oleh Dr. Ir. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si., dosen dan peneliti ITB.

Pembicara pada diskusi panel 1 adalah:
1. Togu Santoso Pardede, S.T., MIDS, Ph.D. – Bappenas
2. Edwin Nugraha Putra, S.T., M.Sc. – PT PLN (Persero)
3. Ir. Hilmi Panigoro, M.B.A., M.Sc. – Medco Energi Internasional

Diskusi sesi pertama menggambarkan bagaimana kebijakan, industri, dan infrastruktur harus bergerak secara harmonis dalam membentuk ekosistem transisi energi nasional. Para pembicara menekankan bahwa keberhasilan transformasi tidak dapat berdiri sendiri—kebijakan perlu selaras dengan kesiapan industri, sementara pelaku industri membutuhkan kepastian regulasi dan roadmap yang konsisten untuk mengarahkan investasi dan pengembangan teknologi.

Panel ini menyoroti pentingnya peran pemerintah dalam menyediakan visi jangka panjang dan landasan kebijakan yang kokoh, sementara industri memastikan bahwa inovasi, pendanaan, dan implementasi di lapangan mampu mengikuti arah transformasi tersebut. Dengan pendekatan terintegrasi ini, transisi energi diharapkan tidak hanya menjadi wacana, tetapi terwujud dalam aksi nyata di seluruh tingkat sistem energi nasional.

Gambar 2. Panel Sesi 1 menghadirkan pemangku kepentingan dari Bappenas, PLN, dan Medco Energi, dipandu oleh Dr. Grandprix Kadja.

🚀 Panel Sesi 2: Teknologi dan Pengembangan SDM sebagai Katalis Transformasi

Sesi kedua mengangkat tema “Technology and Human Development”, dengan Taufik Faturohman, S.T., M.B.A., Ph.D. sebagai moderator.

Pembicara pada diskusi panel 2 adalah:
1. Fadli Rahman, S.T., M.S., Ph.D. – Pertamina NRE
2. Ir. Hary Devianto, S.T., M.Eng., Ph.D. – Pusat Kebijakan Keenergian ITB
3. Filda Citra Yusgiantoro, S.T., M.B.M., M.B.A., Ph.D. – Purnomo Yusgiantoro Center

Panel kedua berfokus pada dua pilar utama transisi energi: teknologi dan sumber daya manusia. Diskusi mengalir mulai dari teknologi masa depan seperti CCUS, hidrogen hijau, hingga digitalisasi sistem energi, yang semuanya dinilai memiliki potensi besar mempercepat transformasi sektor energi Indonesia. Para pembicara menegaskan bahwa teknologi hanya dapat memberikan dampak optimal bila didukung oleh SDM yang kompeten dan adaptif.

Dalam sesi ini, berkembang pandangan bahwa investasi pada teknologi harus berjalan seiring dengan investasi pada peningkatan kapasitas manusia. Perguruan tinggi, industri, dan lembaga penelitian perlu membangun ekosistem pembelajaran dan inovasi yang mampu melahirkan talenta multidisiplin. Kolaborasi riset–industri dan kurikulum yang relevan menjadi faktor kunci agar Indonesia mampu bersaing dalam lanskap energi global yang terus berubah.

Gambar 3. Panel Sesi 2 dengan narasumber dari Pertamina NRE, Pusat Kebijakan Keenergian ITB, serta Purnomo Yusgiantoro Center, dimoderatori oleh Dr. Taufik Faturohman.

🔍 Rangkuman Kunci (Minutes of Summit)

Minutes of Summit menegaskan beberapa poin strategis:

  • urgensi kolaborasi lintas sektor berbasis sains dan kebijakan,
  • perlunya roadmap transisi energi yang terintegrasi dan konsisten,
  • pentingnya investasi pada teknologi rendah karbon,
  • serta penguatan kapasitas sumber daya manusia sebagai pilar utama keberhasilan transformasi energi.

Temuan-temuan ini menjadi referensi penting bagi para pemangku kepentingan dalam merancang kebijakan dan strategi lanjutan untuk mempercepat transisi energi Indonesia.

Untuk menyaksikan rangkaian acara secara lengkap, termasuk sesi keynote dan panel diskusi, rekaman siaran langsung ITB Energy Transition Summit 2025 dapat ditonton melalui tautan berikut:

🔗 Tonton full live di sini

Gambar 4. Suasana diskusi, tanya jawab, dan networking antar peserta, memperlihatkan kolaborasi strategis multi-sektor untuk mempercepat transisi energi Indonesia.
Gambar 5. Suasana diskusi, tanya jawab, dan networking antar peserta, memperlihatkan kolaborasi strategis multi-sektor untuk mempercepat transisi energi Indonesia.
Gambar 6. Sesi foto bersama para pembicara, moderator, dan wakil pemerintah yang hadir dalam acara ini.

🎓 ITB sebagai Jembatan Keilmuan dan Aksi Nyata

Melalui acara ini, ITB kembali menunjukkan perannya sebagai knowledge hub yang mampu menjembatani sains, kebijakan, dan implementasi lapangan. Kolaborasi yang terbangun di forum ini diharapkan terus berkembang menjadi inisiatif dan aksi berkelanjutan untuk membangun masa depan energi Indonesia yang lebih bersih dan lebih berketahanan.

Gambar 7. Rekap sebagian dokumentasi pada acara ITB Energy Transition Summit 2025.
Gambar 8. Tim panitia ITB Energy Transition Summit 2025 bangga dapat turut serta berkontribusi dalam acara ini.

Untuk lembaga pemerintah, industri, dan mitra riset yang ingin berkolaborasi dalam program transisi energi, penelitian, atau pengembangan teknologi energi rendah karbon:

📧 Hubungi kami melalui email: info@ogrindoitb.com
Kami membuka peluang kerja sama, diskusi ilmiah, serta kemitraan strategis untuk bersama memperkuat ekosistem energi Indonesia.

Kategori
News Article

Technology Day 2025: Menguatkan Sinergi untuk Peningkatan Produksi melalui Extended Stimulation & Enhanced Oil Recovery (EOR)

Bandung, 19–21 November 2025 — OGRINDO ITB bersama Laboratorium EOR ITB menghadiri Technology Day: Sinergi Upaya Pencapaian Produksi dengan Penerapan Extended Stimulation, forum teknis yang diselenggarakan oleh SKK Migas sebagai langkah strategis untuk mempercepat peningkatan produksi minyak nasional menuju target 2026. Acara ini berlangsung selama tiga hari dan mempertemukan perwakilan dari Pertamina, LEMIGAS, KKKS, serta penyedia teknologi EOR.

Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kerja sama antara operator, regulator, lembaga penelitian, dan penyedia teknologi dalam mengatasi tantangan produksi lapangan migas yang sudah mature, terutama yang memerlukan penerapan EOR (Enhanced Oil Recovery) dan Extended Stimulation.

Forum Teknis dengan Agenda Komprehensif Selama Tiga Hari

Agenda Technology Day disusun untuk memfasilitasi diskusi teknis, pembahasan studi kasus, pertukaran pengalaman lapangan, hingga pembentukan langkah tindak lanjut implementasi. Berdasarkan rundown resmi SKK Migas, rangkaian kegiatan meliputi:

📌 Hari Pertama — Pembukaan & Panel Extended Stimulation

  • Registrasi peserta dan pembukaan oleh Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja (EPMWK) SKK Migas
  • Diskusi panel “Sinergi Upaya Pencapaian Produksi dengan Penerapan Extended Stimulation
  • Booth visit penyedia teknologi
  • Paparan teknis dan diskusi PEP pada Lapangan Tanjung, North Kutai Lama, Kenali Asam, dan Tempino

📌 Hari Kedua — Diskusi PEP & Peluang Implementasi

  • Pembahasan kondisi dan rencana stimulasi pada Lapangan Pamusian, Limau, Ramba, Rantau, dan Sago
  • Dialog teknis terstruktur antara SKK Migas, KKKS, dan penyedia teknologi
  • Booth visit penyedia teknologi

📌 Hari Ketiga — Finalisasi Strategi & Tindak Lanjut

  • Diskusi dan evaluasi tindak lanjut SKK Migas × KKKS × penyedia teknologi
  • Penyusunan ringkasan kesimpulan dari seluruh sesi
  • Penutupan program

Rangkaian agenda menunjukkan komitmen seluruh peserta dalam menyatukan perspektif operasional, teknologi, dan penelitian untuk menghasilkan strategi peningkatan produksi yang terukur, terintegrasi, dan siap untuk diimplementasikan di lapangan.

Pesan Utama: Kolaborasi Menjadi Kunci Keberhasilan

Dalam setiap sesi diskusi, presentasi teknologi, maupun pembahasan studi kasus, satu tema utama muncul secara konsisten:

Keberhasilan penerapan Extended Stimulation dan EOR bergantung pada kolaborasi erat antara operator, regulator, institusi riset, dan teknologi penyedia solusi.

Keputusan pemilihan teknologi dan formulasi kimia harus didasarkan pada:

  • karakteristik reservoir,
  • data laboratorium yang komprehensif,
  • evaluasi performa lapangan, dan
  • kesiapan operasional.

Dengan elemen tersebut, EOR dan Extended Stimulation dapat dirancang untuk memberikan hasil efektif, ekonomis, dan berkelanjutan bagi lapangan migas Indonesia.

Gambar 3. Ekspresi antusiasme perwakilan OGRINDO ITB dan Laboratorium EOR ITB dalam mengikuti rangkaian kegiatan Technology Day.

Komitmen OGRINDO × Lab EOR ITB dalam Mendukung Produksi Nasional

Partisipasi OGRINDO ITB dan Laboratorium EOR ITB pada kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan kontribusi kami dalam sektor hulu migas melalui:

🔹 Penerapan riset berbasis data untuk mendukung keputusan lapangan
🔹 Penyediaan layanan studi laboratorium EOR
🔹 Pengembangan solusi teknologi melalui kerja sama dengan industri
🔹 Keterlibatan dalam forum pertukaran ilmu dan perumusan strategi peningkatan produksi

Kami percaya bahwa kolaborasi berkesinambungan antara industri, regulator, dan akademisi menjadi fondasi penting bagi keberhasilan EOR dan Extended Stimulation di Indonesia.

Gambar 4. Ekspresi antusiasme perwakilan OGRINDO ITB dan Laboratorium EOR ITB dalam mengikuti rangkaian kegiatan Technology Day.

Penutup

Semoga semangat sinergi ini terus berlanjut melalui implementasi nyata di lapangan, demi mendukung ketahanan energi nasional dan pencapaian target produksi minyak Indonesia.

OGRINDO ITB bersama Laboratorium EOR ITB berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi antara industri, regulator, dan akademisi guna menghadirkan solusi peningkatan produksi yang efektif dan berkelanjutan.

📩 Untuk informasi lebih lanjut, diskusi teknis, atau peluang kolaborasi, silakan menghubungi:
info@ogrindoitb.com

Kategori
News Article

OGRINDO ITB dan BRIN Inisiasi Kemitraan Strategis untuk Memperkuat Ekosistem Riset Nasional

Sebagai bagian dari komitmen untuk memperkuat kontribusi riset terhadap pembangunan bangsa, OGRINDO ITB (Oil and Gas Recovery for Indonesia) secara resmi memulai inisiasi kemitraan strategis dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Kemitraan ini bertujuan untuk menyatukan kekuatan akademisi, peneliti, dan institusi nasional dalam menyusun agenda riset yang lebih terarah, kolaboratif, dan berdampak nyata bagi Indonesia.

Kunjungan BRIN ke kampus ITB dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Bambang Widarsono, M.Sc., yang hadir sebagai ketua rombongan dalam diskusi perdana ini. Kehadiran beliau menegaskan pentingnya sinergi antara BRIN dan OGRINDO dalam mempercepat inisiasi kolaborasi riset nasional.

Gambar 1. Tim OGRINDO ITB dan BRIN berfoto bersama pada diskusi awal inisiasi kemitraan riset di kampus ITB.

🌍 Sinergi Riset Menuju Inovasi Bangsa

Gambar 2. Pemaparan mengenai profil dan program OGRINDO ITB kepada tim BRIN sebagai langkah awal penyelarasan agenda riset bersama.

Inisiasi kerja sama antara OGRINDO ITB dan BRIN mencakup berbagai bentuk dukungan dan fasilitasi yang memungkinkan kegiatan riset berkembang secara lebih terstruktur dan berkelanjutan. Ruang lingkup kolaborasi tersebut meliputi:

  1. Kolaborasi Penelitian Melalui Program RIIM (Riset Inovasi Indonesia Maju)
    Program RIIM membuka peluang bagi peneliti OGRINDO ITB dan BRIN untuk mengembangkan riset inovatif dengan tingkat kesiapterapan teknologi (TRL) minimal 4. Melalui program ini, kedua institusi dapat menyusun proposal riset secara kolaboratif dan lintas disiplin sesuai prioritas nasional di masa mendatang.
  2. Program Degree by Research (DBR) bersama BRIN
    Mahasiswa magister dan doktoral yang tergabung dalam OGRINDO ITB akan memiliki kesempatan mengikuti program Degree by Research (DBR)—baik untuk jenjang S2 maupun S3—dengan topik riset yang dirumuskan dan disepakati bersama peneliti BRIN. Model ini memastikan bahwa kegiatan penelitian memiliki arah yang jelas, relevan, dan mendukung agenda riset nasional.
  3. Pembiayaan Riset Kolaboratif melalui Skema Pendanaan Nasional
    Riset bersama antara OGRINDO ITB dan BRIN diharapkan dapat memperoleh dukungan pendanaan melalui skema nasional seperti LPDP–Sawit, termasuk mekanisme lain yang mendukung keberlanjutan riset lintas institusi. Sinergi ini juga terhubung dengan OPPINET, jaringan kolaborasi yang mempertemukan peneliti, lembaga, dan industri untuk memperluas pemanfaatan dan hilirisasi hasil riset.
Gambar 3. Diskusi mendalam antara tim OGRINDO ITB dan BRIN mengenai inisiasi kerjasama.

🧩 Manfaat dan Keunggulan Kemitraan

Melalui kolaborasi ini, OGRINDO dan BRIN menghadirkan berbagai nilai tambah bagi komunitas riset, antara lain:

  • Akses langsung ke fasilitas dan laboratorium OGRINDO ITB dan BRIN
  • Kesempatan memperluas jejaring riset nasional melalui kolaborasi antarlembaga.
  • Dukungan dalam penyusunan proposal, pelaksanaan riset, dan monitoring.
  • Kemudahan integrasi antara kegiatan riset dan pengembangan kebijakan nasional.

Kemitraan ini juga diharapkan membuka jalan untuk memperkuat hubungan antara sektor hulu dan hilir riset, memastikan bahwa proses perencanaan, pelaksanaan, hingga pemanfaatan riset berjalan lebih sinkron dan terarah.

🌐 Kolaborasi untuk Masa Depan Riset Indonesia

Dengan adanya inisiasi kemitraan ini, OGRINDO ITB menegaskan komitmennya dalam mendukung agenda riset nasional melalui kolaborasi yang inklusif, strategis, dan berkelanjutan.

Sinergi OGRINDO–BRIN diharapkan menjadi fondasi kuat untuk melahirkan lebih banyak karya riset yang relevan, aplikatif, dan memberikan manfaat bagi pembangunan Indonesia.

Mari berkolaborasi menciptakan inovasi yang berdampak bagi masa depan bangsa.

Kunjungi situs resmi kami untuk informasi lebih lengkap mengenai inisiatif dan peluang kerja sama:
🔗 www.ogrindoitb.com
📩 Untuk pertanyaan dan diskusi kemitraan riset, hubungi:
info@ogrindoitb.com

Kategori
News Article

CCUS: Solusi Strategis Indonesia Menuju Masa Depan Rendah Karbon

Indonesia saat ini berada pada tahap krusial dalam perjalanan menuju masa depan energi rendah karbon. Seiring meningkatnya kebutuhan energi dan tekanan global untuk mengurangi emisi, teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) muncul sebagai salah satu solusi paling strategis untuk menjaga keseimbangan antara ketahanan energi dan keberlanjutan lingkungan.

Profil Emisi CO₂ Indonesia

Sebagai salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia, Indonesia berkontribusi signifikan terhadap emisi karbon global. Data terbaru menunjukkan bahwa emisi karbon dioksida (CO₂) Indonesia meningkat tajam dari 35,8 juta ton (Mt) pada tahun 1970 menjadi sekitar 729 juta ton (Mt) pada tahun 2022. Lonjakan ini terutama disebabkan oleh dominasi bahan bakar fosil — seperti batubara, minyak, dan gas alam — dalam bauran energi nasional.

Gambar 1. Tren Emisi CO₂ di Indonesia (1970–2022). Sumber: Ramadhan et al. (2024) berdasarkan informasi dari Ritchie & Roser (2023)

Pertumbuhan ekonomi dan populasi yang pesat mempercepat peningkatan kebutuhan energi, sementara penggunaan energi terbarukan masih relatif rendah. Kondisi ini menegaskan urgensi bagi Indonesia untuk mengadopsi teknologi pengurangan emisi seperti CCUS demi mencapai target Net Zero Emission tahun 2060.

Teknologi CCUS menawarkan solusi konkret: menangkap emisi karbon langsung dari sumbernya (seperti pabrik, kilang, atau pembangkit listrik) dan menyimpannya secara aman di bawah permukaan bumi agar tidak kembali ke atmosfer.

Potensi Lokasi Penyimpanan CO₂ di Indonesia

Berdasarkan studi Ramadhan et al. (2024) dalam Energy Geoscience, Indonesia memiliki kapasitas penyimpanan karbon dalam skala gigaton — salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Potensi tersebut tersebar di berbagai formasi geologi utama:

  1. Depleted Oil & Gas Reservoirs
    Lapangan minyak dan gas yang sudah tidak produktif menawarkan potensi besar untuk Enhanced Oil/Gas Recovery (EOR/EGR) sekaligus menjadi tempat penyimpanan CO₂. Total kapasitas: sekitar 2.822 MtCO₂ (≈ 2,82 GtCO₂). Lokasi utama: Sumatra dan Jawa.
  2. Saline Aquifers
    Formasi saline aquifer yang berada di bawah tanah memiliki kapasitas penyimpanan terbesar. Total kapasitas: 335.884 MtCO₂ (≈ 335,8 GtCO₂). Lokasi utama: Sumatra, Jawa, dan Kalimantan (Borneo).
  3. Geological Storage Zones
    Wilayah dengan lapisan batuan berpori, seperti pasir batu dan kapur, juga berpotensi untuk penyimpanan jangka panjang yang aman dan stabil. Kapasitas total: 13.863 MtCO₂ (≈ 13,86 GtCO₂). Sebagian besar berada di Sumatra dan Jawa.

Dengan total potensi mencapai lebih dari 350 GtCO₂, Indonesia berpeluang besar menjadi pusat penyimpanan karbon (carbon storage hub) di kawasan Asia.

Gambar 2. Potensi Penyimpanan Karbon (CO₂) di Indonesia Berdasarkan Jenis Formasi Geologi. Sumber: Ramadhan et al. (2024) berdasarkan informasi dari Zhang & Lau (2022); Bokka & Lau (2023).

Peta Pengembangan Proyek CCUS di Indonesia

Saat ini, berbagai proyek CCUS telah dan sedang dikembangkan di seluruh Indonesia, termasuk:

  • Tangguh CCUS (Papua Barat) – 2026
  • Sakakemang CCS (Sumatra Selatan) – 2028
  • Central Sumatra Basin CCUS Hub – 2028
  • Kutai Basin dan Sunda Asri CCUS Hub (Kalimantan & Jawa) – 2029
  • Ramba EOR (Sumatra Selatan) – 2030

Inisiatif ini menunjukkan komitmen nyata Indonesia untuk mengintegrasikan riset, teknologi, dan industri dalam menekan emisi karbon nasional.

Gambar 3. Peta Pengembangan Proyek CCUS di Indonesia. Sumber: Ramadhan et al. (2024) berdasarkan informasi dari Sidemen (2023).

Mengapa CCUS Penting untuk Indonesia

Perubahan iklim kini menjadi tantangan global yang nyata, dan Indonesia berada di garis depan dalam upaya menekan emisi karbon tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi. Di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) hadir sebagai solusi strategis yang mampu menjembatani transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan.

Melalui penerapan CCUS, Indonesia dapat memperoleh berbagai manfaat penting yang berdampak langsung pada sektor energi, industri, dan lingkungan, antara lain:

  • Menurunkan emisi karbon secara signifikan dari sektor industri berat dan energi.
  • Menjaga daya saing industri nasional di tengah kebijakan dan regulasi karbon global.
  • Memperpanjang umur aset migas nasional melalui proyek Enhanced Oil Recovery (EOR) berbasis CO₂.
  • Menarik investasi dan transfer teknologi di bidang energi bersih dan inovasi rendah karbon.
  • Mendukung target Net Zero Emission 2060, sekaligus membuka peluang ekonomi hijau baru bagi bangsa.

Dengan kekayaan geologi dan keahlian teknis di sektor energi, Indonesia memiliki modal kuat untuk memimpin implementasi CCUS di kawasan Asia — menjadikannya jembatan antara riset akademik, teknologi, dan penerapan industri nyata.

Kesimpulan

Teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) bukan sekadar konsep masa depan, tetapi solusi nyata yang sudah mulai diimplementasikan di berbagai wilayah Indonesia. Penerapan CCUS akan menjadi kunci transisi menuju ekonomi rendah karbon, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin energi berkelanjutan di Asia Tenggara.

Untuk mencapai hal tersebut, kolaborasi lintas sektor — antara pemerintah, industri, dan lembaga riset seperti OGRINDO ITB — menjadi faktor penentu keberhasilan.

📩 Mari berkolaborasi!
Untuk kerja sama riset, kemitraan industri, atau informasi lebih lanjut seputar inovasi CCUS, hubungi kami melalui email: info@ogrindoitb.com

📚 Sumber Referensi:

  • Ramadhan, R., Mon, M. T., Tangparitkul, S., Tansuchat, R., & Agustin, D. A. (2024). Carbon Capture, Utilization, and Storage in Indonesia: An Update on Storage Capacity, Current Status, Economic Viability, and Policy. Energy Geoscience, Vol. 5, 100335.
  • Ritchie, H., & Roser, M. (2023). CO₂ and Greenhouse Gas Emissions. Our World in Data.
  • Zhang, L., & Lau, H. (2022). Carbon Storage Assessment in Southeast Asia. Energy Reports, 8, 1250–1265.
  • Bokka, S., & Lau, H. (2023). Economic Feasibility of Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) in Developing Economies. International Journal of Greenhouse Gas Control, 127, 103765.
  • Sidemen. (2023). Current Landscape of CCUS Development in Indonesia.
Kategori
News Article

Laboratorium EOR ITB Goes to Korea: Merajut Kebersamaan dan Inovasi Baru

Sejalan dengan semangat OGRINDO (Oil and Gas Recovery for Indonesia) dalam memperkuat kolaborasi riset dan inovasi energi nasional, Laboratorium EOR ITB terus berupaya membangun sinergi tidak hanya dalam bidang penelitian, tetapi juga dalam kebersamaan tim yang menjadi fondasi setiap langkah inovasi.

Melalui kegiatan Laboratorium EOR ITB Goes to Korea pada 10–15 September 2025, tim berkesempatan menikmati suasana baru di luar laboratorium—menyatukan semangat, kreativitas, dan kekompakan dalam perjalanan penuh inspirasi di Negeri Ginseng.

Perjalanan yang Penuh Inspirasi

Gambar 1. Tim Lab EOR ITB bersiap memulai perjalanan menuju Korea Selatan dari Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno–Hatta, Jakarta.

Perjalanan dimulai dengan keberangkatan dari Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta menuju Incheon, dengan transit di Kuala Lumpur. Setibanya di Korea, tim langsung disambut pemandangan indah Songdo Central Park, diikuti kunjungan ke Nami Island, lokasi ikonik dari drama legendaris Winter Sonata. Hari kedua dilanjutkan ke Eunpyeong Hanok Village dan Gangnam COEX Mall, sebelum akhirnya beristirahat di hotel.

Gambar 2. Menikmati keindahan Songdo Central Park dan suasana ikonik Nami Island, lokasi legendaris drama Winter Sonata.
Gambar 3. Jalan-jalan di Eunpyeong Hanok Village, kawasan tradisional yang memadukan arsitektur Korea klasik dengan latar pegunungan indah.

Hari ketiga diisi dengan eksplorasi budaya dan sejarah, dimulai dari Gyeongbokgung Palace, melewati Blue House dan Gwanghwamun Square untuk melihat Patung Raja Sejong Agung serta Patung Laksamana Yi Sun-Shin yang bersejarah. Tim juga mengunjungi Donuimun Museum Village, Itaewon Mosque, dan menikmati panorama kota dari Namsan Seoul Tower.

Gambar 4. Mengenal sejarah dan kebudayaan Korea di Gyeongbokgung Palace, istana megah peninggalan Dinasti Joseon.

Selanjutnya, pada hari keempat, rombongan mengenal lebih dekat budaya dan gaya hidup Korea melalui kunjungan ke National Ginseng Museum, K-Cosmetic Shop, dan Amethyst Shop. Petualangan berlanjut ke HIKR Ground, Insadong Antique Street, Trick Eye Museum, dan Hongdae Youth Avenue, tempat suasana seni dan kreativitas muda terasa begitu hidup.

Hari kelima menjadi momen menyenangkan dengan kegiatan making kimbap dan hanbok wearing, diikuti sesi belanja di Duty Free Shop dan Myeongdong Street yang terkenal. Sebelum kembali ke tanah air, tim menyempatkan diri berbelanja oleh-oleh khas Korea di local supermarket, lalu menuju Incheon Airport untuk kembali ke Jakarta.

Gambar 5. Berpose ceria di Cheonggyecheon Stream, ruang publik ikonik di jantung Kota Seoul yang dipenuhi karya seni dan kreativitas.

Team Building: Dari Laboratorium ke Kehangatan Kebersamaan

Meski perjalanan kali ini tidak berfokus pada kunjungan laboratorium, nilai kebersamaan dan kerja sama tim menjadi inti dari seluruh rangkaian kegiatan. Di setiap destinasi, para anggota tim saling berbagi cerita, tawa, dan pengalaman baru yang mempererat hubungan satu sama lain.

Kegiatan team building yang dikemas secara santai ini menjadi wadah refleksi bagi para peneliti dan staf untuk mengenal lebih dalam rekan-rekannya di luar konteks profesional. Dari sinilah tumbuh rasa saling percaya dan kekompakan yang akan terbawa kembali ke lingkungan riset.

Gambar 6. Rangkaian momen kebersamaan tim Lab EOR ITB selama Goes to Korea 2025—menyatukan semangat, kreativitas, dan kolaborasi di luar laboratorium.

Membawa Semangat Baru ke Laboratorium

Sepulang dari Korea, tim Laboratorium EOR ITB membawa lebih dari sekadar kenangan indah. Perjalanan ini menjadi sumber energi baru—membangkitkan motivasi, semangat kolaboratif, dan rasa syukur untuk terus berkontribusi dalam riset energi berkelanjutan.

Inovasi tidak hanya tumbuh dari laboratorium, tetapi juga dari manusia di baliknya: tim yang solid, kreatif, dan berjiwa kolaboratif. Dengan semangat baru dari perjalanan ini, Laboratorium EOR ITB siap melanjutkan langkah bersama OGRINDO menuju masa depan energi Indonesia yang lebih inovatif dan berkelanjutan.

✨ Laboratorium EOR ITB – Menyatukan Sains, Inovasi, dan Kebersamaan untuk Masa Depan Energi Indonesia
📧 Untuk informasi dan kolaborasi riset, hubungi: info@ogrindoitb.com

Kategori
News Article

CCUS in Action: Kisah Sukses Global dan Pembelajaran bagi Masa Depan Rendah Karbon Indonesia

Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) telah menjadi salah satu solusi nyata yang terbukti secara global. Dari penyimpanan CO₂ di bawah laut hingga mineralisasi alami menjadi batu, proyek-proyek unggulan seperti di Norwegia dan Islandia menunjukkan bahwa emisi karbon tidak hanya dapat dikendalikan, tetapi juga dimanfaatkan untuk menciptakan nilai ekonomi baru. Dengan rekam jejak implementasi yang terverifikasi secara ilmiah, CCS/CCUS kini menjadi pilar penting dalam transisi menuju masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Menuju Masa Depan Rendah Karbon Melalui Implementasi Teknologi CCUS yang Terverifikasi Secara Global

Di tengah urgensi transisi energi global, teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) telah menjadi salah satu pilar utama dalam upaya mengurangi emisi karbon. Melalui penerapan di berbagai negara, CCUS terbukti efektif tidak hanya dalam menekan emisi gas rumah kaca, tetapi juga mendorong efisiensi ekonomi dan keberlanjutan industri energi.
Berikut dua kisah sukses dunia yang menunjukkan bahwa solusi rendah karbon bukanlah sekadar konsep — tetapi sudah menjadi kenyataan.

Sleipner (Norwegia): Pionir Penyimpanan CO₂ di Laut Lepas

Diluncurkan pada tahun 1996 oleh Equinor (d/h Statoil), Proyek Sleipner berlokasi di Sleipner West gas field, sekitar 250 km barat daya Stavanger, Norwegia, di wilayah Central North Sea. Proyek ini merupakan CCS komersial pertama di dunia, yang menyuntikkan CO₂ hasil pemisahan gas alam ke dalam Utsira Formation yang terletak pada kedalaman sekitar 800–1000 meter di bawah permukaan laut. Hingga kini, lebih dari 16 juta ton CO₂ telah berhasil disimpan secara aman di Utsira Formation. Keberhasilan Sleipner ditopang oleh sistem pemantauan 3D seismik dan gravimetrik yang ketat, memastikan tidak ada kebocoran CO₂ dari lapisan penyimpanan. Dengan biaya penyimpanan yang efisien, proyek ini membuktikan bahwa CCS dapat berjalan aman dan ekonomis sekaligus memenuhi regulasi lingkungan yang ketat di Eropa.

Skema dan platform proyek Sleipner di North Sea, Norwegia — proyek CCS komersial pertama di dunia yang telah menyimpan lebih dari 16 juta ton CO₂ secara aman sejak 1996. Sumber: Solomon (2007), Bellona Foundation; Equinor.

CarbFix (Islandia): Menyulap CO₂ Menjadi Batu

Di bawah tanah basalt Islandia, proyek CarbFix mengubah konsep CCS menjadi sesuatu yang lebih permanen — mineralisasi alami. Dengan mencampur CO₂ ke dalam air dan menyuntikkannya ke batuan basalt reaktif, lebih dari 95% CO₂ berubah menjadi batu karbonat.
Keunggulan metode ini adalah keamanan penyimpanan jangka panjang: karbon diubah menjadi mineral padat, menghilangkan risiko kebocoran. Hingga kini, CarbFix telah menyimpan lebih dari 100.000 ton CO₂ di bawah tanah Islandia. Metode mineralisasi cepat yang dikembangkan proyek ini kini diadaptasi di berbagai negara — termasuk Norwegia, Amerika Serikat, dan India — melalui proyek-proyek riset yang menerapkan prinsip serupa untuk menyimpan karbon secara permanen di batuan basalt.

Skema proses dan lokasi proyek CarbFix di Pembangkit Listrik Panas Bumi Hellisheidi, dekat Reykjavík, Islandia. Proyek ini mengubah CO₂ menjadi batu karbonat secara permanen di bawah tanah basalt. Sumber: Matter & Kelemen (2021), Nature Reviews Earth & Environment; Reuters.

Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia

Indonesia memiliki potensi penyimpanan karbon mencapai sekitar 400 gigaton CO₂ di berbagai formasi geologi — termasuk reservoir minyak dan gas, batuan pasir, serta saline aquifer yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa. Potensi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kapasitas penyimpanan karbon terbesar di Asia Tenggara.
Namun, pengalaman dari Sleipner (Norwegia) dan CarbFix (Islandia) menunjukkan bahwa keberlanjutan implementasi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada ekosistem pendukung yang kuat: regulasi, kolaborasi, dan kepercayaan publik.

Peta proyek CCS/CCUS yang sedang dikembangkan di Indonesia. Ilustrasi ini menunjukkan potensi penyimpanan karbon di berbagai wilayah strategis. Sumber: Wibisono, N. (2024), “CCS in Indonesia,” Energy Geoscience.

1️⃣ Kerangka Regulasi yang Kuat dan Adaptif
Langkah penting telah dimulai melalui Peraturan Presiden No. 14 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (CCS), yang menjadi dasar hukum nasional pertama yang secara komprehensif mengatur pelaksanaan CCS/CCUS di Indonesia. Perpres ini menetapkan definisi, mekanisme izin, serta skema bisnis dan teknis untuk CCS/CCUS. Regulasi ini memberikan kejelasan mengenai perizinan, hak penyimpanan CO₂, pembagian tanggung jawab, serta mekanisme pemantauan pasca-penutupan proyek.

Selain itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga telah menerbitkan Panduan Teknis Implementasi CCS/CCUS sebagai acuan bagi industri dan lembaga riset dalam melakukan studi kelayakan, desain injeksi, serta pengawasan lapangan.

2️⃣ Kolaborasi Lintas Sektor
Sejalan dengan praktik global, keberhasilan implementasi CCS/CCUS di Indonesia membutuhkan sinergi antara pemerintah, industri energi, akademisi, dan lembaga riset. Di sinilah peran Institut Teknologi Bandung (ITB) dan OGRINDO ITB menjadi kunci — menjembatani riset laboratorium, pemodelan reservoir, serta uji lapangan dengan kebutuhan industri.
Kolaborasi dengan perusahaan migas nasional seperti Pertamina Subholding Upstream dan mitra internasional juga membuka peluang besar untuk pilot project CCS/CCUS, khususnya di lapangan migas yang sudah memasuki tahap mature field.

3️⃣ Pemantauan Ilmiah dan Keterbukaan Data
Dari pengalaman Sleipner dan CarbFix, terbukti bahwa pemantauan berbasis sains dan transparansi data merupakan faktor penting dalam menjaga kepercayaan publik dan keberlanjutan proyek jangka panjang. Sleipner, misalnya, telah menjalankan program pemantauan seismik 4D dan survei gravimetri selama lebih dari 20 tahun untuk memastikan keamanan penyimpanan CO₂, sementara CarbFix membuka data risetnya secara publik untuk mendukung inovasi dan kolaborasi global.

Pendekatan serupa dapat diterapkan di Indonesia — dengan membangun sistem pemantauan dan pelaporan terbuka yang dapat diakses oleh pemerintah, akademisi, dan masyarakat, guna memperkuat kepercayaan publik terhadap implementasi teknologi CCUS.

Melalui pendekatan terintegrasi ini, Indonesia memiliki peluang besar untuk meniru kesuksesan global dan mewujudkan proyek komersialisasi CCS/CCUS pertama pada tahun 2026, sebagaimana ditetapkan dalam Peta Jalan Transisi Energi Nasional. Saat ini, beberapa perusahaan energi nasional telah memulai studi kelayakan CCS/CCUS di berbagai lapangan migas, termasuk Lapangan Gundih (Jawa Tengah) dan Tangguh (Papua Barat), yang ditargetkan menjadi proyek percontohan pertama sebelum 2026. Implementasi awal ini akan menjadi landasan untuk membangun ekosistem penyimpanan karbon jangka panjang di Indonesia. Keberhasilan proyek percontohan ini akan menjadi tonggak penting dalam mencapai target Net Zero Emission 2060.

🌱 Dari Riset Menuju Aksi

Teknologi CCUS bukan sekadar solusi masa depan — tetapi investasi strategis untuk memastikan keberlanjutan energi nasional dan daya saing industri. Melalui riset kolaboratif, inovasi teknologi, dan transfer pengetahuan, OGRINDO ITB berkomitmen mendukung pengembangan CCS/CCUS dari tahap laboratorium hingga implementasi lapangan.

Dengan dukungan kebijakan yang jelas, kolaborasi multisektor, dan fondasi ilmiah yang kuat, Indonesia siap melangkah dari fase riset menuju implementasi nyata — menjadikan karbon bukan lagi beban, melainkan peluang untuk membangun masa depan energi bersih yang berdaya saing global.

📩 Tertarik berkolaborasi dalam riset CCS/CCUS?
Hubungi kami di info@ogrindoitb.com.

Mari bersama mempercepat langkah menuju Net Zero Emission 2060 dan membangun masa depan energi Indonesia yang tangguh, bersih, dan berdaya saing global.

📚 Daftar Referensi

  • Furre, A.-K., Eiken, O., Alnes, H., Vevatne, J. N., & Kiær, A. F. (2017). 20 years of monitoring CO₂-injection at Sleipner. Energy Procedia, 114, 3916–3926.
  • Snæbjörnsdóttir, S. Ó. et al. (2020). Carbon dioxide storage through mineral carbonation. Nature Reviews Earth & Environment, 1, 90–102.
  • Ramadhan, R. et al. (2024). Carbon capture, utilization, and storage in Indonesia. Energy Geoscience, 5, 100335.
  • CarbFix Official Website