Bandung, 19–21 November 2025 — OGRINDO ITB bersama Laboratorium EOR ITB menghadiri Technology Day: Sinergi Upaya Pencapaian Produksi dengan Penerapan Extended Stimulation, forum teknis yang diselenggarakan oleh SKK Migas sebagai langkah strategis untuk mempercepat peningkatan produksi minyak nasional menuju target 2026. Acara ini berlangsung selama tiga hari dan mempertemukan perwakilan dari Pertamina, LEMIGAS, KKKS, serta penyedia teknologi EOR.
Kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kerja sama antara operator, regulator, lembaga penelitian, dan penyedia teknologi dalam mengatasi tantangan produksi lapangan migas yang sudah mature, terutama yang memerlukan penerapan EOR (Enhanced Oil Recovery) dan Extended Stimulation.
Gambar 1. Perwakilan tim OGRINDO ITB dan Laboratorium EOR ITB pada sesi pembukaan Technology Day.
Forum Teknis dengan Agenda Komprehensif Selama Tiga Hari
Agenda Technology Day disusun untuk memfasilitasi diskusi teknis, pembahasan studi kasus, pertukaran pengalaman lapangan, hingga pembentukan langkah tindak lanjut implementasi. Berdasarkan rundown resmi SKK Migas, rangkaian kegiatan meliputi:
📌 Hari Pertama — Pembukaan & Panel Extended Stimulation
Registrasi peserta dan pembukaan oleh Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja (EPMWK) SKK Migas
Diskusi panel “Sinergi Upaya Pencapaian Produksi dengan Penerapan Extended Stimulation”
Booth visit penyedia teknologi
Paparan teknis dan diskusi PEP pada Lapangan Tanjung, North Kutai Lama, Kenali Asam, dan Tempino
📌 Hari Kedua — Diskusi PEP & Peluang Implementasi
Pembahasan kondisi dan rencana stimulasi pada Lapangan Pamusian, Limau, Ramba, Rantau, dan Sago
Dialog teknis terstruktur antara SKK Migas, KKKS, dan penyedia teknologi
Booth visit penyedia teknologi
📌 Hari Ketiga — Finalisasi Strategi & Tindak Lanjut
Diskusi dan evaluasi tindak lanjut SKK Migas × KKKS × penyedia teknologi
Penyusunan ringkasan kesimpulan dari seluruh sesi
Penutupan program
Rangkaian agenda menunjukkan komitmen seluruh peserta dalam menyatukan perspektif operasional, teknologi, dan penelitian untuk menghasilkan strategi peningkatan produksi yang terukur, terintegrasi, dan siap untuk diimplementasikan di lapangan.
Gambar 2. Perwakilan tim OGRINDO ITB dan Laboratorium EOR ITB pada sesi pembukaan Technology Day.
Pesan Utama: Kolaborasi Menjadi Kunci Keberhasilan
Dalam setiap sesi diskusi, presentasi teknologi, maupun pembahasan studi kasus, satu tema utama muncul secara konsisten:
Keberhasilan penerapan Extended Stimulation dan EOR bergantung pada kolaborasi erat antara operator, regulator, institusi riset, dan teknologi penyedia solusi.
Keputusan pemilihan teknologi dan formulasi kimia harus didasarkan pada:
karakteristik reservoir,
data laboratorium yang komprehensif,
evaluasi performa lapangan, dan
kesiapan operasional.
Dengan elemen tersebut, EOR dan Extended Stimulation dapat dirancang untuk memberikan hasil efektif, ekonomis, dan berkelanjutan bagi lapangan migas Indonesia.
Gambar 3. Ekspresi antusiasme perwakilan OGRINDO ITB dan Laboratorium EOR ITB dalam mengikuti rangkaian kegiatan Technology Day.
Komitmen OGRINDO × Lab EOR ITB dalam Mendukung Produksi Nasional
Partisipasi OGRINDO ITB dan Laboratorium EOR ITB pada kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan kontribusi kami dalam sektor hulu migas melalui:
🔹 Penerapan riset berbasis data untuk mendukung keputusan lapangan 🔹 Penyediaan layanan studi laboratorium EOR 🔹 Pengembangan solusi teknologi melalui kerja sama dengan industri 🔹 Keterlibatan dalam forum pertukaran ilmu dan perumusan strategi peningkatan produksi
Kami percaya bahwa kolaborasi berkesinambungan antara industri, regulator, dan akademisi menjadi fondasi penting bagi keberhasilan EOR dan Extended Stimulation di Indonesia.
Gambar 4. Ekspresi antusiasme perwakilan OGRINDO ITB dan Laboratorium EOR ITB dalam mengikuti rangkaian kegiatan Technology Day.
Penutup
Semoga semangat sinergi ini terus berlanjut melalui implementasi nyata di lapangan, demi mendukung ketahanan energi nasional dan pencapaian target produksi minyak Indonesia.
OGRINDO ITB bersama Laboratorium EOR ITB berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi antara industri, regulator, dan akademisi guna menghadirkan solusi peningkatan produksi yang efektif dan berkelanjutan.
📩 Untuk informasi lebih lanjut, diskusi teknis, atau peluang kolaborasi, silakan menghubungi: info@ogrindoitb.com
Sebagai bagian dari komitmen untuk memperkuat kontribusi riset terhadap pembangunan bangsa, OGRINDO ITB (Oil and Gas Recovery for Indonesia) secara resmi memulai inisiasi kemitraan strategis dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Kemitraan ini bertujuan untuk menyatukan kekuatan akademisi, peneliti, dan institusi nasional dalam menyusun agenda riset yang lebih terarah, kolaboratif, dan berdampak nyata bagi Indonesia.
Kunjungan BRIN ke kampus ITB dipimpin oleh Prof. Dr. Ir. Bambang Widarsono, M.Sc., yang hadir sebagai ketua rombongan dalam diskusi perdana ini. Kehadiran beliau menegaskan pentingnya sinergi antara BRIN dan OGRINDO dalam mempercepat inisiasi kolaborasi riset nasional.
Gambar 1. Tim OGRINDO ITB dan BRIN berfoto bersama pada diskusi awal inisiasi kemitraan riset di kampus ITB.
🌍 Sinergi Riset Menuju Inovasi Bangsa
Gambar 2. Pemaparan mengenai profil dan program OGRINDO ITB kepada tim BRIN sebagai langkah awal penyelarasan agenda riset bersama.
Inisiasi kerja sama antara OGRINDO ITB dan BRIN mencakup berbagai bentuk dukungan dan fasilitasi yang memungkinkan kegiatan riset berkembang secara lebih terstruktur dan berkelanjutan. Ruang lingkup kolaborasi tersebut meliputi:
Kolaborasi Penelitian Melalui Program RIIM (Riset Inovasi Indonesia Maju) Program RIIM membuka peluang bagi peneliti OGRINDO ITB dan BRIN untuk mengembangkan riset inovatif dengan tingkat kesiapterapan teknologi (TRL) minimal 4. Melalui program ini, kedua institusi dapat menyusun proposal riset secara kolaboratif dan lintas disiplin sesuai prioritas nasional di masa mendatang.
Program Degree by Research (DBR) bersama BRIN Mahasiswa magister dan doktoral yang tergabung dalam OGRINDO ITB akan memiliki kesempatan mengikuti program Degree by Research (DBR)—baik untuk jenjang S2 maupun S3—dengan topik riset yang dirumuskan dan disepakati bersama peneliti BRIN. Model ini memastikan bahwa kegiatan penelitian memiliki arah yang jelas, relevan, dan mendukung agenda riset nasional.
Pembiayaan Riset Kolaboratif melalui Skema Pendanaan Nasional Riset bersama antara OGRINDO ITB dan BRIN diharapkan dapat memperoleh dukungan pendanaan melalui skema nasional seperti LPDP–Sawit, termasuk mekanisme lain yang mendukung keberlanjutan riset lintas institusi. Sinergi ini juga terhubung dengan OPPINET, jaringan kolaborasi yang mempertemukan peneliti, lembaga, dan industri untuk memperluas pemanfaatan dan hilirisasi hasil riset.
Gambar 3. Diskusi mendalam antara tim OGRINDO ITB dan BRIN mengenai inisiasi kerjasama.
🧩 Manfaat dan Keunggulan Kemitraan
Melalui kolaborasi ini, OGRINDO dan BRIN menghadirkan berbagai nilai tambah bagi komunitas riset, antara lain:
Akses langsung ke fasilitas dan laboratorium OGRINDO ITB dan BRIN
Kesempatan memperluas jejaring riset nasional melalui kolaborasi antarlembaga.
Dukungan dalam penyusunan proposal, pelaksanaan riset, dan monitoring.
Kemudahan integrasi antara kegiatan riset dan pengembangan kebijakan nasional.
Kemitraan ini juga diharapkan membuka jalan untuk memperkuat hubungan antara sektor hulu dan hilir riset, memastikan bahwa proses perencanaan, pelaksanaan, hingga pemanfaatan riset berjalan lebih sinkron dan terarah.
🌐 Kolaborasi untuk Masa Depan Riset Indonesia
Dengan adanya inisiasi kemitraan ini, OGRINDO ITB menegaskan komitmennya dalam mendukung agenda riset nasional melalui kolaborasi yang inklusif, strategis, dan berkelanjutan.
Sinergi OGRINDO–BRIN diharapkan menjadi fondasi kuat untuk melahirkan lebih banyak karya riset yang relevan, aplikatif, dan memberikan manfaat bagi pembangunan Indonesia.
Mari berkolaborasi menciptakan inovasi yang berdampak bagi masa depan bangsa.
Kunjungi situs resmi kami untuk informasi lebih lengkap mengenai inisiatif dan peluang kerja sama: 🔗 www.ogrindoitb.com 📩 Untuk pertanyaan dan diskusi kemitraan riset, hubungi: info@ogrindoitb.com
Indonesia saat ini berada pada tahap krusial dalam perjalanan menuju masa depan energi rendah karbon. Seiring meningkatnya kebutuhan energi dan tekanan global untuk mengurangi emisi, teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) muncul sebagai salah satu solusi paling strategis untuk menjaga keseimbangan antara ketahanan energi dan keberlanjutan lingkungan.
Profil Emisi CO₂ Indonesia
Sebagai salah satu negara dengan populasi terbesar di dunia, Indonesia berkontribusi signifikan terhadap emisi karbon global. Data terbaru menunjukkan bahwa emisi karbon dioksida (CO₂) Indonesia meningkat tajam dari 35,8 juta ton (Mt) pada tahun 1970 menjadi sekitar 729 juta ton (Mt) pada tahun 2022. Lonjakan ini terutama disebabkan oleh dominasi bahan bakar fosil — seperti batubara, minyak, dan gas alam — dalam bauran energi nasional.
Gambar 1. Tren Emisi CO₂ di Indonesia (1970–2022). Sumber: Ramadhan et al. (2024) berdasarkan informasi dari Ritchie & Roser (2023)
Pertumbuhan ekonomi dan populasi yang pesat mempercepat peningkatan kebutuhan energi, sementara penggunaan energi terbarukan masih relatif rendah. Kondisi ini menegaskan urgensi bagi Indonesia untuk mengadopsi teknologi pengurangan emisi seperti CCUS demi mencapai target Net Zero Emission tahun 2060.
Teknologi CCUS menawarkan solusi konkret: menangkap emisi karbon langsung dari sumbernya (seperti pabrik, kilang, atau pembangkit listrik) dan menyimpannya secara aman di bawah permukaan bumi agar tidak kembali ke atmosfer.
Potensi Lokasi Penyimpanan CO₂ di Indonesia
Berdasarkan studi Ramadhan et al. (2024) dalam Energy Geoscience, Indonesia memiliki kapasitas penyimpanan karbon dalam skala gigaton — salah satu yang terbesar di Asia Tenggara. Potensi tersebut tersebar di berbagai formasi geologi utama:
Depleted Oil & Gas Reservoirs Lapangan minyak dan gas yang sudah tidak produktif menawarkan potensi besar untuk Enhanced Oil/Gas Recovery (EOR/EGR) sekaligus menjadi tempat penyimpanan CO₂. Total kapasitas: sekitar 2.822 MtCO₂ (≈ 2,82 GtCO₂). Lokasi utama: Sumatra dan Jawa.
Saline Aquifers Formasi saline aquifer yang berada di bawah tanah memiliki kapasitas penyimpanan terbesar. Total kapasitas: 335.884 MtCO₂ (≈ 335,8 GtCO₂). Lokasi utama: Sumatra, Jawa, dan Kalimantan (Borneo).
Geological Storage Zones Wilayah dengan lapisan batuan berpori, seperti pasir batu dan kapur, juga berpotensi untuk penyimpanan jangka panjang yang aman dan stabil. Kapasitas total: 13.863 MtCO₂ (≈ 13,86 GtCO₂). Sebagian besar berada di Sumatra dan Jawa.
Dengan total potensi mencapai lebih dari 350 GtCO₂, Indonesia berpeluang besar menjadi pusat penyimpanan karbon (carbon storage hub) di kawasan Asia.
Gambar 2. Potensi Penyimpanan Karbon (CO₂) di Indonesia Berdasarkan Jenis Formasi Geologi. Sumber: Ramadhan et al. (2024) berdasarkan informasi dari Zhang & Lau (2022); Bokka & Lau (2023).
Peta Pengembangan Proyek CCUS di Indonesia
Saat ini, berbagai proyek CCUS telah dan sedang dikembangkan di seluruh Indonesia, termasuk:
Tangguh CCUS (Papua Barat) – 2026
Sakakemang CCS (Sumatra Selatan) – 2028
Central Sumatra Basin CCUS Hub – 2028
Kutai Basin dan Sunda Asri CCUS Hub (Kalimantan & Jawa) – 2029
Ramba EOR (Sumatra Selatan) – 2030
Inisiatif ini menunjukkan komitmen nyata Indonesia untuk mengintegrasikan riset, teknologi, dan industri dalam menekan emisi karbon nasional.
Gambar 3. Peta Pengembangan Proyek CCUS di Indonesia. Sumber: Ramadhan et al. (2024) berdasarkan informasi dari Sidemen (2023).
Mengapa CCUS Penting untuk Indonesia
Perubahan iklim kini menjadi tantangan global yang nyata, dan Indonesia berada di garis depan dalam upaya menekan emisi karbon tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi. Di tengah meningkatnya kebutuhan energi dan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) hadir sebagai solusi strategis yang mampu menjembatani transisi menuju energi bersih dan berkelanjutan.
Melalui penerapan CCUS, Indonesia dapat memperoleh berbagai manfaat penting yang berdampak langsung pada sektor energi, industri, dan lingkungan, antara lain:
Menurunkan emisi karbon secara signifikan dari sektor industri berat dan energi.
Menjaga daya saing industri nasional di tengah kebijakan dan regulasi karbon global.
Memperpanjang umur aset migas nasional melalui proyek Enhanced Oil Recovery (EOR) berbasis CO₂.
Menarik investasi dan transfer teknologi di bidang energi bersih dan inovasi rendah karbon.
Mendukung target Net Zero Emission 2060, sekaligus membuka peluang ekonomi hijau baru bagi bangsa.
Dengan kekayaan geologi dan keahlian teknis di sektor energi, Indonesia memiliki modal kuat untuk memimpin implementasi CCUS di kawasan Asia — menjadikannya jembatan antara riset akademik, teknologi, dan penerapan industri nyata.
Kesimpulan
Teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) bukan sekadar konsep masa depan, tetapi solusi nyata yang sudah mulai diimplementasikan di berbagai wilayah Indonesia. Penerapan CCUS akan menjadi kunci transisi menuju ekonomi rendah karbon, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin energi berkelanjutan di Asia Tenggara.
Untuk mencapai hal tersebut, kolaborasi lintas sektor — antara pemerintah, industri, dan lembaga riset seperti OGRINDO ITB — menjadi faktor penentu keberhasilan.
📩 Mari berkolaborasi! Untuk kerja sama riset, kemitraan industri, atau informasi lebih lanjut seputar inovasi CCUS, hubungi kami melalui email: info@ogrindoitb.com
📚 Sumber Referensi:
Ramadhan, R., Mon, M. T., Tangparitkul, S., Tansuchat, R., & Agustin, D. A. (2024). Carbon Capture, Utilization, and Storage in Indonesia: An Update on Storage Capacity, Current Status, Economic Viability, and Policy. Energy Geoscience, Vol. 5, 100335.
Ritchie, H., & Roser, M. (2023). CO₂ and Greenhouse Gas Emissions. Our World in Data.
Zhang, L., & Lau, H. (2022). Carbon Storage Assessment in Southeast Asia. Energy Reports, 8, 1250–1265.
Bokka, S., & Lau, H. (2023). Economic Feasibility of Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) in Developing Economies. International Journal of Greenhouse Gas Control, 127, 103765.
Sidemen. (2023). Current Landscape of CCUS Development in Indonesia.
Sejalan dengan semangat OGRINDO (Oil and Gas Recovery for Indonesia) dalam memperkuat kolaborasi riset dan inovasi energi nasional, Laboratorium EOR ITB terus berupaya membangun sinergi tidak hanya dalam bidang penelitian, tetapi juga dalam kebersamaan tim yang menjadi fondasi setiap langkah inovasi.
Melalui kegiatan Laboratorium EOR ITB Goes to Korea pada 10–15 September 2025, tim berkesempatan menikmati suasana baru di luar laboratorium—menyatukan semangat, kreativitas, dan kekompakan dalam perjalanan penuh inspirasi di Negeri Ginseng.
Perjalanan yang Penuh Inspirasi
Gambar 1. Tim Lab EOR ITB bersiap memulai perjalanan menuju Korea Selatan dari Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno–Hatta, Jakarta.
Perjalanan dimulai dengan keberangkatan dari Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta menuju Incheon, dengan transit di Kuala Lumpur. Setibanya di Korea, tim langsung disambut pemandangan indah Songdo Central Park, diikuti kunjungan ke Nami Island, lokasi ikonik dari drama legendaris Winter Sonata. Hari kedua dilanjutkan ke Eunpyeong Hanok Village dan Gangnam COEX Mall, sebelum akhirnya beristirahat di hotel.
Gambar 2. Menikmati keindahan Songdo Central Park dan suasana ikonik Nami Island, lokasi legendaris drama Winter Sonata.
Gambar 3. Jalan-jalan di Eunpyeong Hanok Village, kawasan tradisional yang memadukan arsitektur Korea klasik dengan latar pegunungan indah.
Hari ketiga diisi dengan eksplorasi budaya dan sejarah, dimulai dari Gyeongbokgung Palace, melewati Blue House dan Gwanghwamun Square untuk melihat Patung Raja Sejong Agung serta Patung Laksamana Yi Sun-Shin yang bersejarah. Tim juga mengunjungi Donuimun Museum Village, Itaewon Mosque, dan menikmati panorama kota dari Namsan Seoul Tower.
Gambar 4. Mengenal sejarah dan kebudayaan Korea di Gyeongbokgung Palace, istana megah peninggalan Dinasti Joseon.
Selanjutnya, pada hari keempat, rombongan mengenal lebih dekat budaya dan gaya hidup Korea melalui kunjungan ke National Ginseng Museum, K-Cosmetic Shop, dan Amethyst Shop. Petualangan berlanjut ke HIKR Ground, Insadong Antique Street, Trick Eye Museum, dan Hongdae Youth Avenue, tempat suasana seni dan kreativitas muda terasa begitu hidup.
Hari kelima menjadi momen menyenangkan dengan kegiatan making kimbap dan hanbok wearing, diikuti sesi belanja di Duty Free Shop dan Myeongdong Street yang terkenal. Sebelum kembali ke tanah air, tim menyempatkan diri berbelanja oleh-oleh khas Korea di local supermarket, lalu menuju Incheon Airport untuk kembali ke Jakarta.
Gambar 5. Berpose ceria di Cheonggyecheon Stream, ruang publik ikonik di jantung Kota Seoul yang dipenuhi karya seni dan kreativitas.
Team Building: Dari Laboratorium ke Kehangatan Kebersamaan
Meski perjalanan kali ini tidak berfokus pada kunjungan laboratorium, nilai kebersamaan dan kerja sama tim menjadi inti dari seluruh rangkaian kegiatan. Di setiap destinasi, para anggota tim saling berbagi cerita, tawa, dan pengalaman baru yang mempererat hubungan satu sama lain.
Kegiatan team building yang dikemas secara santai ini menjadi wadah refleksi bagi para peneliti dan staf untuk mengenal lebih dalam rekan-rekannya di luar konteks profesional. Dari sinilah tumbuh rasa saling percaya dan kekompakan yang akan terbawa kembali ke lingkungan riset.
Gambar 6. Rangkaian momen kebersamaan tim Lab EOR ITB selama Goes to Korea 2025—menyatukan semangat, kreativitas, dan kolaborasi di luar laboratorium.
Membawa Semangat Baru ke Laboratorium
Sepulang dari Korea, tim Laboratorium EOR ITB membawa lebih dari sekadar kenangan indah. Perjalanan ini menjadi sumber energi baru—membangkitkan motivasi, semangat kolaboratif, dan rasa syukur untuk terus berkontribusi dalam riset energi berkelanjutan.
Inovasi tidak hanya tumbuh dari laboratorium, tetapi juga dari manusia di baliknya: tim yang solid, kreatif, dan berjiwa kolaboratif. Dengan semangat baru dari perjalanan ini, Laboratorium EOR ITB siap melanjutkan langkah bersama OGRINDO menuju masa depan energi Indonesia yang lebih inovatif dan berkelanjutan.
✨ Laboratorium EOR ITB – Menyatukan Sains, Inovasi, dan Kebersamaan untuk Masa Depan Energi Indonesia 📧 Untuk informasi dan kolaborasi riset, hubungi: info@ogrindoitb.com
Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim, teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) telah menjadi salah satu solusi nyata yang terbukti secara global. Dari penyimpanan CO₂ di bawah laut hingga mineralisasi alami menjadi batu, proyek-proyek unggulan seperti di Norwegia dan Islandia menunjukkan bahwa emisi karbon tidak hanya dapat dikendalikan, tetapi juga dimanfaatkan untuk menciptakan nilai ekonomi baru. Dengan rekam jejak implementasi yang terverifikasi secara ilmiah, CCS/CCUS kini menjadi pilar penting dalam transisi menuju masa depan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Menuju Masa Depan Rendah Karbon Melalui Implementasi Teknologi CCUS yang Terverifikasi Secara Global
Di tengah urgensi transisi energi global, teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) telah menjadi salah satu pilar utama dalam upaya mengurangi emisi karbon. Melalui penerapan di berbagai negara, CCUS terbukti efektif tidak hanya dalam menekan emisi gas rumah kaca, tetapi juga mendorong efisiensi ekonomi dan keberlanjutan industri energi. Berikut dua kisah sukses dunia yang menunjukkan bahwa solusi rendah karbon bukanlah sekadar konsep — tetapi sudah menjadi kenyataan.
Sleipner (Norwegia): Pionir Penyimpanan CO₂ di Laut Lepas
Diluncurkan pada tahun 1996 oleh Equinor (d/h Statoil), Proyek Sleipner berlokasi di Sleipner West gas field, sekitar 250 km barat daya Stavanger, Norwegia, di wilayah Central North Sea. Proyek ini merupakan CCS komersial pertama di dunia, yang menyuntikkan CO₂ hasil pemisahan gas alam ke dalam Utsira Formation yang terletak pada kedalaman sekitar 800–1000 meter di bawah permukaan laut. Hingga kini, lebih dari 16 juta ton CO₂ telah berhasil disimpan secara aman di Utsira Formation. Keberhasilan Sleipner ditopang oleh sistem pemantauan 3D seismik dan gravimetrik yang ketat, memastikan tidak ada kebocoran CO₂ dari lapisan penyimpanan. Dengan biaya penyimpanan yang efisien, proyek ini membuktikan bahwa CCS dapat berjalan aman dan ekonomis sekaligus memenuhi regulasi lingkungan yang ketat di Eropa.
Skema dan platform proyek Sleipner di North Sea, Norwegia — proyek CCS komersial pertama di dunia yang telah menyimpan lebih dari 16 juta ton CO₂ secara aman sejak 1996. Sumber: Solomon (2007), Bellona Foundation; Equinor.
CarbFix (Islandia): Menyulap CO₂ Menjadi Batu
Di bawah tanah basalt Islandia, proyek CarbFix mengubah konsep CCS menjadi sesuatu yang lebih permanen — mineralisasi alami. Dengan mencampur CO₂ ke dalam air dan menyuntikkannya ke batuan basalt reaktif, lebih dari 95% CO₂ berubah menjadi batu karbonat. Keunggulan metode ini adalah keamanan penyimpanan jangka panjang: karbon diubah menjadi mineral padat, menghilangkan risiko kebocoran. Hingga kini, CarbFix telah menyimpan lebih dari 100.000 ton CO₂ di bawah tanah Islandia. Metode mineralisasi cepat yang dikembangkan proyek ini kini diadaptasi di berbagai negara — termasuk Norwegia, Amerika Serikat, dan India — melalui proyek-proyek riset yang menerapkan prinsip serupa untuk menyimpan karbon secara permanen di batuan basalt.
Skema proses dan lokasi proyek CarbFix di Pembangkit Listrik Panas Bumi Hellisheidi, dekat Reykjavík, Islandia. Proyek ini mengubah CO₂ menjadi batu karbonat secara permanen di bawah tanah basalt. Sumber: Matter & Kelemen (2021), Nature Reviews Earth & Environment; Reuters.
Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia
Indonesia memiliki potensi penyimpanan karbon mencapai sekitar 400 gigaton CO₂ di berbagai formasi geologi — termasuk reservoir minyak dan gas, batuan pasir, serta saline aquifer yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa. Potensi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan kapasitas penyimpanan karbon terbesar di Asia Tenggara. Namun, pengalaman dari Sleipner (Norwegia) dan CarbFix (Islandia) menunjukkan bahwa keberlanjutan implementasi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS) tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada ekosistem pendukung yang kuat: regulasi, kolaborasi, dan kepercayaan publik.
Peta proyek CCS/CCUS yang sedang dikembangkan di Indonesia. Ilustrasi ini menunjukkan potensi penyimpanan karbon di berbagai wilayah strategis. Sumber: Wibisono, N. (2024), “CCS in Indonesia,” Energy Geoscience.
1️⃣ Kerangka Regulasi yang Kuat dan Adaptif Langkah penting telah dimulai melalui Peraturan Presiden No. 14 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Penangkapan dan Penyimpanan Karbon (CCS), yang menjadi dasar hukum nasional pertama yang secara komprehensif mengatur pelaksanaan CCS/CCUS di Indonesia. Perpres ini menetapkan definisi, mekanisme izin, serta skema bisnis dan teknis untuk CCS/CCUS. Regulasi ini memberikan kejelasan mengenai perizinan, hak penyimpanan CO₂, pembagian tanggung jawab, serta mekanisme pemantauan pasca-penutupan proyek.
Selain itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga telah menerbitkan Panduan Teknis Implementasi CCS/CCUS sebagai acuan bagi industri dan lembaga riset dalam melakukan studi kelayakan, desain injeksi, serta pengawasan lapangan.
2️⃣ Kolaborasi Lintas Sektor Sejalan dengan praktik global, keberhasilan implementasi CCS/CCUS di Indonesia membutuhkan sinergi antara pemerintah, industri energi, akademisi, dan lembaga riset. Di sinilah peran Institut Teknologi Bandung (ITB) dan OGRINDO ITB menjadi kunci — menjembatani riset laboratorium, pemodelan reservoir, serta uji lapangan dengan kebutuhan industri. Kolaborasi dengan perusahaan migas nasional seperti Pertamina Subholding Upstream dan mitra internasional juga membuka peluang besar untuk pilot project CCS/CCUS, khususnya di lapangan migas yang sudah memasuki tahap mature field.
3️⃣ Pemantauan Ilmiah dan Keterbukaan Data Dari pengalaman Sleipner dan CarbFix, terbukti bahwa pemantauan berbasis sains dan transparansi data merupakan faktor penting dalam menjaga kepercayaan publik dan keberlanjutan proyek jangka panjang. Sleipner, misalnya, telah menjalankan program pemantauan seismik 4D dan survei gravimetri selama lebih dari 20 tahun untuk memastikan keamanan penyimpanan CO₂, sementara CarbFix membuka data risetnya secara publik untuk mendukung inovasi dan kolaborasi global.
Pendekatan serupa dapat diterapkan di Indonesia — dengan membangun sistem pemantauan dan pelaporan terbuka yang dapat diakses oleh pemerintah, akademisi, dan masyarakat, guna memperkuat kepercayaan publik terhadap implementasi teknologi CCUS.
Melalui pendekatan terintegrasi ini, Indonesia memiliki peluang besar untuk meniru kesuksesan global dan mewujudkan proyek komersialisasi CCS/CCUS pertama pada tahun 2026, sebagaimana ditetapkan dalam Peta Jalan Transisi Energi Nasional. Saat ini, beberapa perusahaan energi nasional telah memulai studi kelayakan CCS/CCUS di berbagai lapangan migas, termasuk Lapangan Gundih (Jawa Tengah) dan Tangguh (Papua Barat), yang ditargetkan menjadi proyek percontohan pertama sebelum 2026. Implementasi awal ini akan menjadi landasan untuk membangun ekosistem penyimpanan karbon jangka panjang di Indonesia. Keberhasilan proyek percontohan ini akan menjadi tonggak penting dalam mencapai target Net Zero Emission 2060.
🌱 Dari Riset Menuju Aksi
Teknologi CCUS bukan sekadar solusi masa depan — tetapi investasi strategis untuk memastikan keberlanjutan energi nasional dan daya saing industri. Melalui riset kolaboratif, inovasi teknologi, dan transfer pengetahuan, OGRINDO ITB berkomitmen mendukung pengembangan CCS/CCUS dari tahap laboratorium hingga implementasi lapangan.
Dengan dukungan kebijakan yang jelas, kolaborasi multisektor, dan fondasi ilmiah yang kuat, Indonesia siap melangkah dari fase riset menuju implementasi nyata — menjadikan karbon bukan lagi beban, melainkan peluang untuk membangun masa depan energi bersih yang berdaya saing global.
📩 Tertarik berkolaborasi dalam riset CCS/CCUS? Hubungi kami di info@ogrindoitb.com.
Mari bersama mempercepat langkah menuju Net Zero Emission 2060 dan membangun masa depan energi Indonesia yang tangguh, bersih, dan berdaya saing global.
📚 Daftar Referensi
Furre, A.-K., Eiken, O., Alnes, H., Vevatne, J. N., & Kiær, A. F. (2017). 20 years of monitoring CO₂-injection at Sleipner. Energy Procedia, 114, 3916–3926.
Snæbjörnsdóttir, S. Ó. et al. (2020). Carbon dioxide storage through mineral carbonation. Nature Reviews Earth & Environment, 1, 90–102.
Ramadhan, R. et al. (2024). Carbon capture, utilization, and storage in Indonesia. Energy Geoscience, 5, 100335.
Dr. Ir. Boni Swadesi, S.T., M.T., IPU – Project Manager OGRINDO ITB yang berperan aktif dalam memperkuat riset dan kolaborasi di bidang Enhanced Oil Recovery (EOR).
Dengan pengalaman lebih dari dua dekade di dunia teknik perminyakan, Dr. Ir. Boni Swadesi, S.T., M.T., IPU merupakan salah satu sosok penting di balik penguatan riset dan pengembangan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) di Indonesia. Saat ini, beliau menjabat sebagai Project Manager OGRINDO ITB, mengoordinasikan berbagai proyek penelitian dan kolaborasi strategis antara kampus, industri, dan lembaga riset untuk mendorong penerapan teknologi EOR yang berkelanjutan.
🧠 Latar Belakang Pendidikan dan Keilmuan
Dr. Boni menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Perminyakan di UPN “Veteran” Yogyakarta, universitas tempat beliau kini mengabdi sebagai dosen sekaligus Ketua Departemen Teknik Perminyakan. Kecintaannya terhadap dunia riset membawanya melanjutkan studi Magister dan Doktor di Institut Teknologi Bandung (ITB), keduanya di bidang Teknik Perminyakan. Penelitiannya berfokus pada mekanisme injeksi surfaktan terintegrasi untuk light oil di reservoir batu pasir, serta pengembangan model polimer injeksi 1D dan 2D untuk mengevaluasi mekanisme squeezing dan sweeping pada proses EOR.
⚙️ Kiprah dan Kontribusi Profesional
Sebagai akademisi sekaligus praktisi, Dr. Boni aktif terlibat dalam berbagai proyek riset unggulan di EOR Lab ITB, LAPI ITB, dan OGRINDO ITB. Beberapa proyek penting yang Dr. Boni pimpin atau koordinasikan antara lain:
Field Trial Polymer Injection Lapangan Tanjung – Pertamina EP, mencakup implementasi, evaluasi, dan monitoring lapangan.
Studi Optimasi Kimia EOR Lapangan Kaji Semoga (PT Medco E&P) serta Lapangan Kenali Asam dan Tempino (PT Pertamina EP).
Formulasi dan Pengembangan Micromodel cEOR, teknologi miniatur untuk studi injeksi kimia skala laboratorium yang kini menjadi salah satu fasilitas riset unggulan di ITB.
Sebagai peneliti yang produktif, Dr. Boni telah berkontribusi dalam berbagai publikasi ilmiah di jurnal nasional maupun internasional, membahas topik-topik seperti perilaku fluida reservoir, mekanika reservoir, serta pengembangan model eksperimental dan numerik untuk optimasi injeksi kimia.
Dr. Boni Swadesi saat mempresentasikan studi tentang karakteristik surfaktan pada light oil untuk aplikasi EOR di era energi terbarukan.
🤝 Peran Strategis di OGRINDO ITB
Dalam kapasitasnya sebagai Project Manager OGRINDO ITB, Dr. Boni berperan penting dalam memperkuat posisi OGRINDO sebagai wadah kolaborasi riset dan inovasi energi nasional. Dr. Boni memastikan setiap penelitian tidak berhenti di tahap laboratorium, melainkan dapat diimplementasikan di lapangan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi energi nasional. Selain itu, Dr. Boni juga aktif menjalin kemitraan strategis dengan industri migas seperti Pertamina Subholding Upstream dan Medco E&P, serta mendorong integrasi riset EOR dengan pengembangan teknologi Carbon Capture, Utilization, and Storage (CCUS).
🌱 Dedikasi untuk Pendidikan dan Inovasi
Di tengah kesibukannya, Dr. Boni tetap konsisten membimbing mahasiswa dan peneliti muda di bidang reservoir engineering dan chemical EOR. Baginya, keberhasilan riset tidak hanya diukur dari hasil teknis, tetapi juga dari kemampuan menumbuhkan generasi insinyur energi yang kompeten, berintegritas, dan berwawasan keberlanjutan.
Dr. Boni Swadesi berbagi wawasan riset EOR dan mendorong kolaborasi lintas disiplin di forum akademik dan industri energi.
Dengan semangat kolaboratif dan visi yang kuat, Dr. Ir. Boni Swadesi, S.T., M.T., IPU menjadi contoh nyata bahwa riset dan inovasi dapat berjalan beriringan untuk mendukung kemandirian energi nasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan teknologi migas berkelanjutan.
Jakarta, 23 September 2025 – Konsorsium riset Oil and Gas Recovery for Indonesia (OGRINDO) ITB terus memperkuat perannya sebagai jembatan antara akademisi dan industri energi nasional. Bertempat di Boardroom Lantai 25, PHE Tower, Jakarta Selatan, OGRINDO ITB melakukan pertemuan penjajakan kerja sama dengan Pertamina Subholding Upstream sebagai langkah strategis untuk mendorong inovasi riset di sektor hulu migas Indonesia.
Pertemuan yang berlangsung pada pukul 08.00–09.30 WIB ini dihadiri oleh jajaran pimpinan dari kedua pihak. Dari OGRINDO ITB hadir Prof. H. Septoratno Siregar, Dr. Boni Swadesi, dan Ir. Mahruri, S.T., M.Sc., sementara Pertamina Subholding Upstream diwakili oleh Edy Karyanto, Mery Luciawaty, Benny Hidajat Sidik, dan Asep Samsul Arifin.
Gambar 1. Perwakilan OGRINDO ITB dan Pertamina Subholding Upstream dalam pertemuan penjajakan kerja sama riset di PHE Tower.
Memperkuat Kolaborasi Riset Migas Nasional
Dalam pertemuan ini, Prof. Septoratno dan Dr. Boni memaparkan kiprah OGRINDO sebagai konsorsium riset migas yang telah berpengalaman lebih dari 20 tahun menjawab tantangan energi melalui penelitian dan inovasi. OGRINDO menjalin kemitraan dengan berbagai universitas dan industri untuk menghadirkan solusi berbasis sains, mulai dari Enhanced Oil Recovery (EOR) hingga teknologi penyimpanan dan pemanfaatan CO₂ untuk mendukung transisi energi rendah karbon.
Pihak Pertamina Subholding Upstream menyambut positif inisiatif ini dan menilai OGRINDO memiliki potensi besar untuk bersinergi, khususnya melalui unit Upstream Innovation (UI) dan Research and Technology Innovation (RTI). Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat penerapan hasil riset menjadi solusi nyata di lapangan, mulai dari optimasi produksi migas hingga penerapan teknologi ramah lingkungan.
Bersama Hadirkan Solusi Energi Berkelanjutan
OGRINDO ITB mengundang industri energi, lembaga riset, dan universitas untuk bergabung dalam kemitraan riset dan inovasi. Bersama-sama, kita dapat menciptakan teknologi yang mendukung ketahanan energi nasional sekaligus mendorong transisi menuju energi rendah karbon.
Gambar 2. Semangat kolaborasi OGRINDO ITB dan Pertamina Subholding Upstream untuk memperkuat riset migas.
Untuk informasi lebih lanjut mengenai program kolaborasi, proposal riset, atau peluang kemitraan, silakan hubungi: 📩 Email: info@ogrindoitb.com 🌐 Website: www.ogrindoitb.com Mari wujudkan masa depan energi Indonesia yang inovatif, efisien, dan berkelanjutan bersama OGRINDO ITB.
Selamat datang di fasilitas riset unggulan kami di Gedung Dato (Labtek XVII), Institut Teknologi Bandung! Melalui kemitraan antara OGRINDO ITB dan Laboratorium Enhanced Oil Recovery (EOR) Purnomo Yusgiantoro, kami bersama-sama memanfaatkan fasilitas Gas Flood Core Flooding yang canggih untuk mendukung penelitian dan pengembangan strategi Enhanced Oil Recovery (EOR) berbasis injeksi gas (miscible maupun immiscible).
Kolaborasi ini memungkinkan resource sharing antara riset akademik dan kebutuhan industri, sehingga pemanfaatan fasilitas dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi pengembangan teknologi energi.
Gambar 1. Perangkat Gas Flood yang siap mendukung studi injeksi gas dan core flooding sesuai kebutuhan riset maupun kolaborasi industri.
🛠️ Keunggulan Sistem Gas Flooding
Sistem ini memiliki fitur-fitur teknis unggulan sebagai berikut:
Tekanan tinggi: Confining pressure dan pore pressure hingga 700 bar (~10.000 psi).
Suhu tinggi: Working temperature hingga 150 °C.
Kapasitas penggunaan gas seperti CO₂, N₂, atau gas hidrokarbon.
Dapat melakukan pengujian water flooding, gas flooding, dan WAG (Water-Alternating-Gas).
Metode unsteady state untuk memperoleh parameter penting: permeabilitas relatif gas dan cairan, saturasi remaining oil, displacement efficiency setelah waterflooding, serta produksi air terkait injeksi gas.
Core holder dapat diorientasikan secara horizontal.
Wetted parts menggunakan material Hastelloy untuk daya tahan tinggi.
Dengan sistem ini, Laboratorium EOR Purnomo Yusgiantoro yang bekerja sama dengan OGRINDO ITB mampu mensimulasikan kondisi reservoir di laboratorium dan menghasilkan data eksperimen yang krusial untuk optimasi injeksi gas di lapangan.
Gambar 2. Pemantauan tekanan, temperatur, dan laju alir secara real time untuk memastikan kontrol yang presisi selama eksperimen injeksi gas.
🔍 Aplikasi dan Manfaat Kolaborasi
Kolaborasi OGRINDO ITB dan Lab EOR Purnomo Yusgiantoro membuka peluang riset dan layanan untuk:
Menentukan strategi injeksi gas yang optimal (jenis gas, tekanan, laju injeksi).
Mengevaluasi skema WAG yang efisien.
Mengetahui displacement efficiency minyak setelah waterflooding.
Memperkirakan volume minyak tambahan yang dapat diproduksi.
Memahami efek segregasi gravitasi dalam injeksi gas.
Menyediakan data uji coba laboratorium sebagai input penting bagi pemodelan reservoir.
Gambar 3. Persiapan sampel core di dalam ruang Gas Flood untuk mensimulasikan kondisi reservoir hingga 700 bar dan 150 °C.
🤝 Riset Bersama dan Layanan
Laboratorium EOR Punomo Yusgiantoro yang bekerja sama dengan OGRINDO ITB menyelenggarakan berbagai eksperimen injeksi gas, CO₂, N₂, dan studi core flood sesuai kebutuhan penelitian dan proyek kerja sama.
Kolaborasi ini menjadi contoh nyata resource sharing antara industri dan akademisi. Melalui kemitraan ini, OGRINDO ITB dan Lab EOR Purnomo Yusgiantoro siap mendukung:
Penelitian bersama perusahaan minyak dan gas.
Studi akademik dan proyek universitas.
Pilot study untuk teknologi energi dan EOR.
Inisiatif CO₂-EOR atau proyek CCUS.
Dengan tim ahli di bidang reservoir, fasilitas mutakhir, dan pengalaman riset yang luas, kami siap menjadi mitra strategis dalam pengembangan teknologi EOR di Indonesia.
Gambar 4. Tampilan bagian dalam Gas Flood: perangkat mutakhir untuk studi EOR injeksi gas.
📞 Hubungi Kami
Untuk informasi teknis lebih lanjut, penawaran layanan, atau kerja sama penelitian: 📧 Email: info@ogrindoitb.com 🌐 Website: www.ogrindoitb.com Kunjungi situs kami untuk melihat spesifikasi lengkap, portofolio riset, dan layanan yang kami tawarkan. Bersama, kita bangun masa depan optimalisasi produksi dengan teknologi injeksi gas terkini!
Pada hari Selasa, 26 Agustus 2025, Laboratorium Enhanced Oil Recovery (EOR) Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan Oil and Gas Recovery for Indonesia (OGRINDO) ITB sukses menyelenggarakan kegiatan Hands-on Laboratory Training Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR). Acara ini menjadi wadah penting bagi praktisi industri dan akademisi untuk memahami lebih dalam metode Chemical EOR melalui pembelajaran langsung di laboratorium.
Kegiatan utama dalam Hands-on Laboratory Training Chemical EOR ini adalah Screening Polymer dan Surfactant Formulation, yang dilaksanakan secara intensif di Laboratorium EOR ITB. Peserta tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga melakukan serangkaian uji laboratorium komprehensif untuk memahami kinerja kimia EOR dalam berbagai kondisi reservoir.
Gambar 1. Peserta training mendengarkan penjelasan instruktur mengenai peralatan laboratorium Chemical EOR di Lab EOR ITB
Detail Kegiatan Training
Screening Polymer
Pada sesi ini, peserta melakukan berbagai pengujian penting untuk menilai performa polimer, meliputi:
Fluid–Fluid Compatibility Test: pengujian viskositas, kompatibilitas polimer dengan air, filtration ratio, screen factor, dan uji stabilitas termal
Rock–Fluid Compatibility Test: static adsorption test, dynamic adsorption test dan IPV, serta injectivity test (RF dan RRF)
Coreflood Test: uji tertiary oil recovery untuk mengevaluasi potensi peningkatan perolehan minyak
Gambar 2. Praktikum pengujian surfaktan: peserta melakukan diskusi interaktif dengan instruktur mengenai metode pengujian laboratorium
2. Surfactant Formulation Lab Test
Sesi ini difokuskan pada formulasi surfaktan dengan berbagai kondisi laboratorium, yang meliputi:
Fluid–Fluid Compatibility Test: uji kompatibilitas surfaktan dengan air, IFT test, phase behavior test, uji stabilitas termal IFT, dan filtration test
Rock–Fluid Compatibility Test: wettability test, static adsorption test, dynamic adsorption test, serta capillary desaturation curves (CDC) test
Coreflood Test: uji tertiary oil recovery untuk menilai efektivitas surfaktan dalam memobilisasi minyak sisa.
Gambar 3. Sesi praktik laboratorium: peserta melakukan pengujian kompatibilitas fluida dan batuan secara langsung
Melalui rangkaian pengujian tersebut, peserta mendapatkan pengalaman langsung dalam evaluasi laboratorium CEOR dengan metode yang digunakan secara global di industri migas. Hal ini memperkuat posisi Lab EOR ITB sebagai pusat riset dan pelatihan dengan fasilitas dan keahlian yang mampu menjawab kebutuhan nyata industri perminyakan di Indonesia.
Peserta Training
Training ini diikuti oleh para profesional dari berbagai perusahaan migas nasional, yaitu:
Pertamina Hulu Energi (PHE) – termasuk PHE OSES, PHE ONWJ, dan PHE SHU SDRE
Pertamina EP (PEP) – termasuk PEP Zona 7
Pertamina Hulu Mahakam (PHM)
Pertamina Hulu Rokan (PHR)
Pertamina Hulu Indonesia (PHI)
Gambar 4. Foto bersama peserta Hands-on Laboratory Training Chemical EOR di Laboratorium EOR ITB.
Gambar 5. Peserta training Chemical EOR berfoto bersama di Aula Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB
Dampak dan Manfaat
Melalui pengalaman langsung ini, peserta tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga wawasan strategis untuk mendukung peningkatan recovery factor dan keberlanjutan energi nasional.
Dengan fasilitas laboratorium yang lengkap serta dukungan tenaga ahli berpengalaman, Lab EOR ITB bersama OGRINDO siap menjadi mitra strategis industri migas dalam pengembangan dan penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery di Indonesia.
Pelatihan ini merupakan bentuk nyata kerja sama antara OGRINDO ITB dan Lab EOR ITB dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor migas. Training ini memberikan pemahaman komprehensif mengenai penerapan Chemical EOR, mulai dari skala laboratorium hingga implikasinya pada lapangan migas.
Selama lebih dari empat dekade, Prof. Dr. Ir. Hasian Parlindungan Septoratno Siregar, DEA, telah menjadi salah satu pilar penting dalam kemajuan industri perminyakan Indonesia. Sebagai pendiri Oil and Gas Recovery for Indonesia (OGRINDO) di Institut Teknologi Bandung (ITB), beliau memimpin berbagai terobosan di bidang Enhanced Oil Recovery (EOR) yang berkontribusi langsung terhadap peningkatan produksi migas nasional. Rekam jejaknya mencakup pendidikan, riset, pengajaran, kepemimpinan akademik, hingga kemitraan strategis dengan industri—mengukuhkan reputasinya sebagai salah satu maestro EOR paling berpengaruh di Indonesia.
Prof. Dr. Ir. Hasian Parlindungan Septoratno Siregar, DEA – Founder OGRINDO ITB & Pakar Enhanced Oil Recovery Indonesia
Fakta Menarik tentang Prof. Siregar 📌 Founder OGRINDO ITB – Menginisiasi konsorsium riset migas nasional 📌 Pakar EOR Indonesia – Riset unggulan di chemical flooding dan immiscible displacement 📌 Pendidik 46+ Tahun – Mengajar di ITB sejak 1975, membimbing ±200 skripsi S-1, ±40 tesis S-2, dan ±15 disertasi S-3 📌 Pengalaman Lapangan Luas – Terlibat di studi pengembangan beberapa lapangan migas Indonesia seperti Minas, Handil, Bunyu, Arjuna Offshore, dan Tiaka 📌 Penghargaan Nasional – Dosen Teladan Nasional (1986) dan Satyalancana Karya Satya 30 Tahun (2009)
Awal Perjalanan Akademik Kecintaannya pada dunia perminyakan berawal di Jurusan Teknik Perminyakan ITB, tempat ia meraih gelar sarjana pada tahun 1975. Beliau kemudian melanjutkan studi ke Prancis dan meraih Diplôme d’Études Approfondies (DEA) di Universitas Paul Sabatier, Toulouse (1978), dalam bidang Mekanika Media Berpori. Tidak berhenti di situ, ia menempuh pendidikan S-3 di Université de Bordeaux I, Talence (1980), dengan disertasi tentang studi aliran polimer untuk aplikasi EOR—penelitian yang menjadi pijakan penting dalam pengembangan teknologi Enhanced Oil Recovery.
Pengabdian di Dunia Pendidikan Sekembalinya ke tanah air, Mas Septo—sapaan akrabnya—memulai pengabdiannya kembali sebagai staf pengajar di Teknik Perminyakan ITB hingga 2021. Beliau mengajar mata kuliah seperti Enhanced Oil Recovery, Immiscible Displacement, Chemical Flooding, dan Advanced Optimization Techniques.
Selain mengajar, ia pernah menjabat sebagai Sekretaris Jurusan (1986–1989), Wakil Kepala Pusat Penelitian (1999–2002), Kepala Kelompok Keahlian Teknik Reservoir Minyak dan Gas Bumi (2006–2015), serta memimpin konsorsium riset OPPINET (2001–2021) dan OGRINDO (2004–2021).
Prof. Hasian P. Siregar pada Annual Meeting OGRINDO
Pionir Riset dan Inovasi Mas Septo menggagas dua konsorsium riset besar di ITB: Optimization of Pipeline Network (OPPINET) dan Oil and Gas Recovery for Indonesia (OGRINDO). Kedua program ini menjadi jembatan kolaborasi antara kampus dan industri, menghadirkan solusi teknologi EOR yang siap diterapkan di lapangan. Penelitian dan konsultasinya meliputi berbagai proyek migas di Indonesia, mulai dari Lapangan Minas (Riau), Handil dan Bunyu (Kalimantan), Arjuna Offshore (Jawa Barat), hingga Tiaka (Sulawesi).
Peran di Industri dan Organisasi Sejak 1975, beliau terlibat dalam berbagai proyek industri dan konsultasi, baik untuk Pertamina, kontraktor migas asing, maupun lembaga riset seperti PPPTMGB LEMIGAS. Ia juga pernah menjadi anggota Komite Penasihat Teknis BPMIGAS untuk proyek EOR surfaktan di Lapangan Minas bersama profesor dari Texas, AS. Reputasinya membuatnya kerap diminta menjadi narasumber dalam berbagai diskusi strategis di sektor migas. Beliau merupakan anggota Society of Petroleum Engineers (SPE) sejak 1975 dan pernah aktif di berbagai organisasi profesi lainnya, termasuk IATMI dan IPA.
Kini, meski telah purna tugas dari ITB, Prof. Dr. Ir. Hasian P. Septoratno Siregar, DEA, tetap aktif menggerakkan inovasi melalui OGRINDO ITB dan berbagai kerja sama industri. Dengan dedikasi dan pengalamannya, ia terus menginspirasi generasi muda insinyur perminyakan untuk mengembangkan teknologi Enhanced Oil Recovery, demi kemandirian energi bangsa.