Kategori
News Article

Training HPLC – RID Part 1: Pengenalan Sistem untuk Analisis yang Presisi

Dalam upaya menjaga standar kualitas analisis yang akurat, presisi, dan reproducible, OGRINDO ITB dan Laboratorium EOR ITB menyelenggarakan Training HPLC–RID bekerja sama dengan PT. Berca Niaga Medika. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemahaman tim terhadap sistem High Performance Liquid Chromatography (HPLC) dengan Refractive Index Detector (RID), agar operasional alat berjalan optimal dan menghasilkan data yang andal untuk mendukung riset serta aplikasi Chemical EOR.

Gambar 1. Sesi diskusi teknis dalam Training HPLC–RID bersama tim PT. Berca Niaga Medika di Laboratorium EOR ITB.
Gambar 2. Peserta training nampak antusias mengikuti sesi diskusi dan pengenalan HPLC-RID di laboratorium EOR ITB.

Sistem HPLC 1260 – RID di Laboratorium EOR ITB

Laboratorium EOR ITB menggunakan HPLC tipe 1260 dengan sistem detektor RID dan manual injector. Konfigurasi ini sangat sesuai untuk analisis senyawa seperti polimer dan surfaktan, terutama dalam studi adsorpsi chemical terhadap batuan, pendeteksian dan kuantifikasi polimer dan surfaktan pada sumur monitoring, serta evaluasi performa injeksi pada skema Chemical EOR. Pemahaman terhadap setiap komponen menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas sistem dan kualitas hasil analisis.

Gambar 3. Instruktur menjelaskan konfigurasi dan komponen utama sistem HPLC-RID yang digunakan dalam proses analisis sampel.

Komponen Utama dan Fungsinya

  1. Reservoir Fasa Gerak
    Wadah penyimpanan pelarut (mobile phase) yang akan dialirkan ke sistem. Kualitas dan kebersihan fasa gerak sangat menentukan kestabilan tekanan serta baseline kromatogram.
  2. Pompa Isokratik
    Sistem yang digunakan bersifat isokratik, yaitu menggunakan satu komposisi fasa gerak tetap selama analisis berlangsung. Berbeda dengan sistem gradient yang memungkinkan perubahan komposisi 2–4 pelarut melalui software, sistem isokratik lebih sederhana dan stabil untuk metode rutin dengan matriks sampel yang relatif konsisten.
  3. Manual Injector
    Proses injeksi dilakukan secara manual menggunakan loop 20 µL dan syringe presisi (umumnya 50 µL) untuk memastikan volume injeksi konsisten dan repeatability tetap terjaga.
  4. Kolom HPLC
    Kolom merupakan inti proses pemisahan. Kompartemen kolom dilengkapi heater dengan suhu hingga 85°C untuk menjaga stabilitas suhu dan konsistensi retention time.
  5. Refractive Index Detector (RID)
    RID bekerja berdasarkan perbedaan indeks bias antara fasa gerak dan komponen sampel. Detektor ini sangat sensitif terhadap perubahan suhu, komposisi pelarut, dan keberadaan gelembung udara, sehingga kestabilan sistem menjadi faktor krusial.
Gambar 4. Demonstrasi proses injeksi sampel menggunakan syringe pada sistem manual injector HPLC.
Gambar 5. Tampilan bagian internal sistem HPLC yang menghubungkan jalur aliran fasa gerak menuju kolom dan detektor.

Stabilitas Sistem Dimulai dari Fasa Gerak

Salah satu pembahasan utama dalam training adalah pentingnya memastikan fasa gerak bebas dari gelembung udara (bubble).

Indikasi Sistem Mengandung Bubble:

  • Grafik pressure naik-turun secara tidak wajar
  • Baseline tidak stabil
  • Perubahan retention time dari metode sebelumnya

Untuk mencegah hal tersebut:

  • Fasa gerak wajib difiltrasi dan disonikasi (degassing).
  • Sistem dijalankan terlebih dahulu menggunakan air sebelum mengganti ke fasa gerak utama untuk memastikan tidak ada udara terperangkap.
  • Jika terdeteksi bubble, lakukan penghilangan udara hingga tekanan stabil sebelum analisis dimulai.
Gambar 6. Detail koneksi tubing dan jalur aliran pada sistem HPLC yang memerlukan kestabilan tekanan serta bebas dari gelembung udara.

Purging Pompa: Langkah Wajib Sebelum Analisis

Purging dilakukan untuk mengeluarkan udara dari sistem. Prosedur umum proses purging sebagai berikut:

  • Jalankan aliran fasa gerak dengan flow rate ±2 mL/menit selama ±2 menit.
  • Jika tekanan belum stabil atau bubble cukup banyak, flow rate dapat dinaikkan hingga 4 mL/menit (maksimal 5 mL/menit sesuai batas sistem).
  • Proses dilakukan hingga tekanan stabil.
  • Durasi purging menyesuaikan kondisi sistem.
Gambar 7. Tampilan perangkat lunak instrumen HPLC yang digunakan untuk memonitor kondisi sistem dan merekam data kromatogram selama proses analisis berlangsung.

Menjaga Performa Kolom dan Akurasi Data

Beberapa best practice yang ditekankan dalam training:

  • Gunakan fasa gerak yang jernih dan tidak keruh.
  • Hindari viskositas terlalu tinggi karena dapat meningkatkan tekanan sistem.
  • Viskositas tinggi dalam jangka panjang dapat mempercepat kejenuhan kolom.
  • Stabilkan suhu kolom untuk menjaga konsistensi retention time.
  • Lakukan flushing bertahap saat mengganti pelarut dengan karakteristik berbeda.

Pada tahap awal, sistem mungkin masih menunjukkan hasil yang baik. Namun tanpa prosedur yang tepat, performa kolom dapat menurun secara bertahap dan berdampak pada validitas data analisis.

Gambar 8. Penjelasan pengaturan metode dan monitoring parameter analisis HPLC melalui sistem perangkat lunak instrumen

Membangun Budaya Analisis yang Presisi

Training ini tidak hanya berfokus pada cara mengoperasikan alat, tetapi juga membangun pemahaman menyeluruh tentang prinsip kerja, potensi risiko operasional, serta pentingnya prosedur standar dalam menjaga integritas data.
Dengan sistem yang terawat dan prosedur yang benar, HPLC–RID menjadi instrumen strategis dalam mendukung analisis polimer dan surfaktan untuk keberhasilan implementasi Chemical EOR.

Gambar 9. Foto bersama peserta dan instruktur setelah sesi praktik pengoperasian instrumen HPLC-RID.

Tertarik Berkolaborasi?

OGRINDO ITB dan Laboratorium EOR ITB membuka peluang kolaborasi riset, pengujian laboratorium, serta pengembangan metode analisis untuk kebutuhan industri dan akademik.
📩 Hubungi kami:
ogrindo@itb.ac.id
eor@itb.ac.id
Mari wujudkan analisis yang lebih presisi, sistem yang lebih stabil, dan data yang lebih terpercaya untuk mendukung inovasi energi berkelanjutan.

Kategori
News Article

Hands-on Laboratory Training Chemical EOR di Lab EOR ITB: Menghubungkan Ilmu, Industri, dan Inovasi

Pada hari Selasa, 26 Agustus 2025, Laboratorium Enhanced Oil Recovery (EOR) Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan Oil and Gas Recovery for Indonesia (OGRINDO) ITB sukses menyelenggarakan kegiatan Hands-on Laboratory Training Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR). Acara ini menjadi wadah penting bagi praktisi industri dan akademisi untuk memahami lebih dalam metode Chemical EOR melalui pembelajaran langsung di laboratorium.

Kegiatan utama dalam Hands-on Laboratory Training Chemical EOR ini adalah Screening Polymer dan Surfactant Formulation, yang dilaksanakan secara intensif di Laboratorium EOR ITB. Peserta tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga melakukan serangkaian uji laboratorium komprehensif untuk memahami kinerja kimia EOR dalam berbagai kondisi reservoir.

Gambar 1. Peserta training mendengarkan penjelasan instruktur mengenai peralatan laboratorium Chemical EOR di Lab EOR ITB

Detail Kegiatan Training

  1. Screening Polymer

Pada sesi ini, peserta melakukan berbagai pengujian penting untuk menilai performa polimer, meliputi:

  • Fluid–Fluid Compatibility Test: pengujian viskositas, kompatibilitas polimer dengan air, filtration ratio, screen factor, dan uji stabilitas termal
  • Rock–Fluid Compatibility Test: static adsorption test, dynamic adsorption test dan IPV, serta injectivity test (RF dan RRF)
  • Coreflood Test: uji tertiary oil recovery untuk mengevaluasi potensi peningkatan perolehan minyak
Gambar 2. Praktikum pengujian surfaktan: peserta melakukan diskusi interaktif dengan instruktur mengenai metode pengujian laboratorium

2. Surfactant Formulation Lab Test

Sesi ini difokuskan pada formulasi surfaktan dengan berbagai kondisi laboratorium, yang meliputi:

  • Fluid–Fluid Compatibility Test: uji kompatibilitas surfaktan dengan air, IFT test, phase behavior test, uji stabilitas termal IFT, dan filtration test
  • Rock–Fluid Compatibility Test: wettability test, static adsorption test, dynamic adsorption test, serta capillary desaturation curves (CDC) test
  • Coreflood Test: uji tertiary oil recovery untuk menilai efektivitas surfaktan dalam memobilisasi minyak sisa.
Gambar 3. Sesi praktik laboratorium: peserta melakukan pengujian kompatibilitas fluida dan batuan secara langsung

Melalui rangkaian pengujian tersebut, peserta mendapatkan pengalaman langsung dalam evaluasi laboratorium CEOR dengan metode yang digunakan secara global di industri migas. Hal ini memperkuat posisi Lab EOR ITB sebagai pusat riset dan pelatihan dengan fasilitas dan keahlian yang mampu menjawab kebutuhan nyata industri perminyakan di Indonesia.

Peserta Training

Training ini diikuti oleh para profesional dari berbagai perusahaan migas nasional, yaitu:

  • Pertamina Hulu Energi (PHE) – termasuk PHE OSES, PHE ONWJ, dan PHE SHU SDRE
  • Pertamina EP (PEP) – termasuk PEP Zona 7
  • Pertamina Hulu Mahakam (PHM)
  • Pertamina Hulu Rokan (PHR)
  • Pertamina Hulu Indonesia (PHI)
Gambar 4. Foto bersama peserta Hands-on Laboratory Training Chemical EOR di Laboratorium EOR ITB.
Gambar 5. Peserta training Chemical EOR berfoto bersama di Aula Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB

Dampak dan Manfaat

Melalui pengalaman langsung ini, peserta tidak hanya memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga wawasan strategis untuk mendukung peningkatan recovery factor dan keberlanjutan energi nasional.

Dengan fasilitas laboratorium yang lengkap serta dukungan tenaga ahli berpengalaman, Lab EOR ITB bersama OGRINDO siap menjadi mitra strategis industri migas dalam pengembangan dan penerapan teknologi Enhanced Oil Recovery di Indonesia.

Pelatihan ini merupakan bentuk nyata kerja sama antara OGRINDO ITB dan Lab EOR ITB dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di sektor migas. Training ini memberikan pemahaman komprehensif mengenai penerapan Chemical EOR, mulai dari skala laboratorium hingga implikasinya pada lapangan migas.