Kategori
News Article

Rheological Interactions Between Barium and Sulfate Ions in HPG Fracturing Fluids: Insight Baru dari Penggunaan Produced Water

Gambar 1. Barium dan sulfat dalam produced water menunjukkan pengaruh yang tidak sama terhadap performa fracturing fluid.

Pemanfaatan produced water sebagai alternatif dalam formulasi fracturing fluid semakin menjadi perhatian di industri migas, terutama di tengah keterbatasan sumber daya air di lapangan. Namun, kompleksitas komposisi kimia produced water, khususnya keberadaan ion monovalen dan divalen, dapat secara signifikan memengaruhi sifat reologi fluida, termasuk viskositas yang menjadi parameter kunci dalam keberhasilan proses hydraulic fracturing. Oleh karena itu, pemahaman yang lebih mendalam mengenai interaksi ion terhadap polimer menjadi krusial dalam merancang fracturing fluid yang optimal dan aplikatif.

Studi ini mengulas hasil penelitian terbaru terkait pengaruh ion barium dan sulfat terhadap fracturing fluid berbasis hydroxypropyl guar (HPG), serta implikasinya terhadap penggunaan produced water di lapangan.

Pemanfaatan Produced Water dalam Fracturing Fluid: Tantangan dan Peluang

Penggunaan produced water menawarkan keuntungan dari sisi ketersediaan dan efisiensi biaya. Namun, kandungan ion yang kompleks di dalamnya dapat memengaruhi stabilitas dan performa fracturing fluid. Ion-ion terlarut, baik monovalen maupun divalen, diketahui berperan dalam menentukan viskositas dan perilaku aliran fluida, sehingga perlu dikaji secara lebih mendalam.

Tujuan Penelitian: Memahami Peran Ion dalam Performa Fracturing Fluids

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh ion divalen, khususnya barium (Ba²⁺) dan sulfat (SO₄²⁻), terhadap viskositas fracturing fluid berbasis HPG. Selain itu, studi ini juga bertujuan untuk memahami bagaimana interaksi ion-ion tersebut memengaruhi perilaku reologi fluida pada berbagai kondisi operasi.

Metodologi Pengujian: Evaluasi Reologi Fluida HPG dalam Berbagai Kondisi

Pengujian dilakukan secara eksperimental menggunakan larutan HPG dengan variasi konsentrasi ion barium dan sulfat. Parameter utama yang diamati adalah viskositas fluida pada berbagai kondisi shear rate dan temperatur.

Secara garis besar, pengujian meliputi:

  • Penambahan ion BaCl₂ dan Na₂SO₄ hingga konsentrasi 150 ppm
  • Pengukuran viskositas menggunakan rheometer pada beberapa shear rate
  • Evaluasi pada temperatur 25°C (kondisi permukaan) dan 70°C (kondisi reservoir)
  • Analisis waktu hidrasi polimer dan uji residu fluida

Pendekatan ini digunakan untuk merepresentasikan kondisi aktual di lapangan.

Gambar 2. Penambahan 150 ppm Ba²⁺ mampu meningkatkan viskositas HPG hingga ~30% pada kondisi temperatur rendah.

Hasil dan Pembahasan: Dampak Ion Barium dan Sulfat terhadap Viskositas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan ion dalam produced water memberikan pengaruh yang berbeda terhadap sifat reologi fracturing fluid:
Ion Barium (Ba²⁺)
Pada konsentrasi 150 ppm, barium mampu meningkatkan viskositas fluida hingga sekitar 30% pada temperatur 25°C. Namun, pada temperatur 70°C, efek ini menjadi kurang signifikan.
Ion Sulfat (SO₄²⁻)
Sulfat menunjukkan pengaruh yang relatif kecil terhadap viskositas, dengan peningkatan sekitar 7% pada temperatur rendah, dan tidak signifikan pada temperatur tinggi.
Perilaku Reologi Fluida
Fluida menunjukkan karakteristik shear thinning, di mana viskositas menurun seiring meningkatnya shear rate.
Residu Fluida
Kehadiran ion barium dan sulfat meningkatkan jumlah residu, namun masih dalam batas standar industri.

Gambar 3. Barium meningkatkan viskositas secara signifikan, sementara sulfat memberikan pengaruh minimal. Namun, efek ini melemah seiring peningkatan temperatur.

Kesimpulan: Implikasi terhadap Desain Fracturing Fluid di Lapangan

Penelitian ini menunjukkan bahwa ion barium memiliki pengaruh yang lebih signifikan dibandingkan sulfat dalam meningkatkan viskositas fracturing fluid berbasis HPG, terutama pada temperatur rendah. Sementara itu, pengaruh kedua ion tersebut cenderung menurun pada temperatur yang lebih tinggi.

Temuan ini menegaskan pentingnya karakterisasi komposisi ion dalam produced water sebagai bagian dari proses desain fracturing fluid, guna memastikan performa yang optimal di kondisi reservoir.

Gambar 4. Performa fluida ditentukan oleh komposisi ion, temperatur, dan kondisi aliran.

Akses Paper Publikasi

Untuk memahami studi ini secara lebih mendalam, Anda dapat mengakses publikasi lengkap melalui tautan berikut: 👉 klik di sini.

Kolaborasi Riset dan Industri

OGRINDO ITB dan Laboratorium EOR ITB terus berkomitmen dalam mendukung pengembangan teknologi Enhanced Oil Recovery berbasis riset dan kebutuhan industri. Jika Anda tertarik untuk berdiskusi atau menjajaki kolaborasi, silakan menghubungi kami melalui:
📩 info@ogrindoitb.com
📩 eor@itb.ac.id

Kategori
News Article

Meet Our Team: Dr. Prasandi Abdul Aziz, S.Si., M.T. — Senior Researcher OGRINDO ITB

OGRINDO ITB didukung oleh tim peneliti dengan latar belakang akademik dan pengalaman industri yang kuat. Salah satunya adalah Dr. Prasandi Abdul Aziz, S.Si., M.T., Senior Researcher yang memiliki keahlian dalam reservoir engineering dan evaluasi ekonomi migas.

Gambar 1. Keterlibatan dalam kolaborasi profesional sebagai bagian dari pengembangan kapasitas dan pertukaran pengetahuan di industri migas.

Latar Belakang Pendidikan dan Keahlian Berbasis Analisis

Dr. Prasandi menyelesaikan pendidikan Sarjana di bidang Matematika dari Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 2011. Ia kemudian melanjutkan studi Magister (2014) dan Doktoral (2025) di bidang Teknik Perminyakan ITB .

Topik penelitiannya berfokus pada optimasi arah dan panjang sumur horizontal menggunakan pendekatan algoritma genetika dengan mempertimbangkan aspek geomekanika dan drainage area. Latar belakang ini membentuk kompetensi kuat dalam pendekatan analitis dan pemodelan untuk studi reservoir.

Pengalaman Profesional dalam Reservoir, Produksi, dan Evaluasi Ekonomi

Dr. Prasandi memiliki pengalaman profesional yang luas melalui keterlibatannya dalam berbagai proyek di LAPI ITB, mencakup peran sebagai Reservoir Engineer, Production Engineer, hingga Petroleum Economist.

Beberapa pekerjaan yang pernah ditangani meliputi studi simulasi reservoir, evaluasi cadangan, analisis performa produksi, hingga penilaian ekonomi blok migas. Ia juga terlibat dalam berbagai proyek bersama SKK Migas, termasuk kegiatan evaluasi sumber daya dan cadangan serta kajian peningkatan perolehan minyak .

Selain itu, sejak tahun 2018 beliau aktif sebagai dosen di Program Studi Teknik Perminyakan ITB.

Gambar 2. Keterlibatan Dr. Prasandi dalam kegiatan diskusi teknis dan kolaborasi profesional.

Kontribusi dalam Riset dan Publikasi Ilmiah

Dr. Prasandi juga aktif dalam publikasi ilmiah yang berkaitan dengan optimasi pengembangan lapangan, reservoir engineering, serta evaluasi ekonomi migas.

Beberapa penelitiannya membahas topik seperti optimasi sumur horizontal, kombinasi metode algoritma genetika dan artificial neural network, hingga evaluasi keekonomian proyek migas dan potensi CO₂-EOR di Indonesia. Kontribusi ini menunjukkan keterlibatannya dalam pengembangan metode berbasis data untuk mendukung pengambilan keputusan di industri.

Gambar 3. Dr. Prasandi Abdul Aziz sebagai instruktur dalam pelatihan “Petroleum Economics & Risk Analysis”.

Peran di OGRINDO ITB

Sebagai Senior Researcher di OGRINDO ITB, Dr. Prasandi berperan dalam pelaksanaan studi teknis yang berkaitan dengan reservoir dan evaluasi proyek migas.

Dengan pengalaman lintas fungsi yang dimilikinya, beliau mendukung kegiatan riset yang terintegrasi antara aspek teknis dan ekonomi, serta berkontribusi dalam penyusunan kajian yang relevan dengan kebutuhan industri.

Gambar 4. Keterlibatan Dr. Prasandi dalam forum akademik dan profesional sebagai bagian dari sinergi antara institusi pendidikan, riset, dan industri energi.

Tertarik Berkolaborasi dengan OGRINDO ITB?

OGRINDO ITB membuka peluang kerja sama dalam studi reservoir, evaluasi lapangan, serta analisis teknis dan ekonomi di sektor hulu migas.

📩 Email: info@ogrindoitb.com

Kami siap berdiskusi untuk mendukung kebutuhan riset dan pengembangan Anda.

Kategori
News Article

Training HPLC – RID Part 2: Hands-on Operasional Sistem dan Analisis Sampel Polimer

Analisis menggunakan High Performance Liquid Chromatography (HPLC) dengan Refractive Index Detector (RID) menjadi salah satu metode penting dalam karakterisasi chemical EOR seperti surfaktan dan polimer, khususnya untuk mendukung kebutuhan riset dan aplikasi Enhanced Oil Recovery (EOR). Penguasaan metode ini tidak hanya membutuhkan pemahaman teori, tetapi juga kemampuan operasional instrumen dan interpretasi data secara akurat. Oleh karena itu, OGRINDO ITB bersama Laboratorium EOR ITB menyelenggarakan Training HPLC–RID Part 2 yang berfokus pada praktik langsung serta pengoperasian sistem secara komprehensif, termasuk pengaturan metode, pengoperasian sistem, hingga penanganan kendala selama pengujian.

Gambar 1. Pelatihan HPLC–RID Part 2 bersama PT. Berca Niaga Medika dan tim Laboratorium EOR ITB dan OGRINDO ITB.

Praktik Operasional dan Pengaturan Sistem HPLC–RID

Penguasaan instrumen tidak berhenti pada memahami teori—tetapi pada kemampuan menjalankan sistem secara langsung dan membaca responnya secara real-time.

Pada sesi ini, pelatihan difokuskan pada praktik langsung pengoperasian sistem HPLC–RID secara menyeluruh. Peserta memulai dari tahapan awal pengoperasian instrumen hingga proses analisis berjalan, dengan menekankan prosedur kerja yang sistematis dan aman.

Kegiatan diawali dengan:

  • Prosedur menyalakan instrumen sesuai urutan operasional
  • Memastikan kondisi sistem dalam status siap
  • Mengenali indikator pada software maupun instrumen sebagai tanda sistem mulai berjalan

Selanjutnya, peserta melakukan:

  • Pengecekan kesiapan sistem sebelum analisis
  • Pengaturan metode pada software, baik untuk akuisisi maupun data processing
  • Penyesuaian parameter penting seperti baseline, waktu retensi, dan integrasi puncak

Selama proses ini, peserta juga mengamati secara langsung respon sistem terhadap setiap pengaturan yang dilakukan. Hal ini menjadi penting untuk memahami bagaimana perubahan parameter dapat memengaruhi hasil kromatogram.

Selain itu, pelatihan juga menekankan pada kondisi yang sering muncul saat pengujian berlangsung, seperti baseline yang tidak stabil, noise pada sinyal, atau puncak yang tidak terbaca dengan optimal. Peserta diarahkan untuk mengenali gejala tersebut serta memahami langkah penanganan awal agar proses analisis tetap berjalan dengan baik.

Pendekatan praktik ini menjadi kunci dalam membangun kepercayaan diri peserta untuk mengoperasikan HPLC–RID secara mandiri di lingkungan laboratorium.

Gambar 3. Proses pengaturan metode dan analisis data menggunakan software HPLC untuk akuisisi dan interpretasi kromatogram.

Hands-on Analisis Sampel Polimer

Setelah memahami operasional sistem dan pengaturan metode, peserta kemudian mengaplikasikan langsung pengetahuan tersebut melalui pengujian sampel polimer untuk melihat performa sistem secara nyata.

Sebagai bagian utama dari pelatihan, dilakukan pengujian sampel polimer dengan beberapa variasi konsentrasi untuk mengevaluasi respon detektor RID serta konsistensi metode analisis yang digunakan.

Hasil kromatogram menunjukkan bahwa puncak polimer terdeteksi secara konsisten pada waktu retensi sekitar 6,6 – 6,9 menit, yang mengindikasikan kondisi sistem yang stabil selama proses analisis.

Selain itu, terlihat tren peningkatan luas area seiring dengan kenaikan konsentrasi sampel, yang menunjukkan bahwa respon detektor berjalan secara proporsional terhadap jumlah sampel yang diuji.
Ringkasan Hasil Uji Polimer
60 ppm | RT: 6,898 menit | Area: 9.950
80 ppm | RT: 6,910 menit | Area: 12.414
100 ppm | RT: 6,677 menit | Area: 15.431

Gambar 5. Kromatogram hasil analisis HPLC–RID pada sampel polimer (60 ppm) yang menunjukkan puncak utama pada waktu retensi sekitar 6,898 menit.
Gambar 6. Kromatogram hasil analisis HPLC–RID pada sampel polimer (80 ppm) yang menunjukkan puncak utama pada waktu retensi sekitar 6,910 menit.

Analisis Singkat Hasil Pengujian

Hasil pengujian menunjukkan bahwa metode yang digunakan telah memberikan respon yang konsisten dan dapat diandalkan. Waktu retensi yang relatif stabil pada setiap variasi konsentrasi menandakan kondisi sistem yang terjaga dengan baik selama analisis berlangsung.

Di sisi lain, peningkatan nilai area yang sejalan dengan kenaikan konsentrasi menunjukkan bahwa detektor RID mampu memberikan respon yang proporsional terhadap jumlah polimer yang dianalisis. Hal ini menjadi indikator bahwa metode memiliki potensi yang baik untuk digunakan dalam analisis kuantitatif.

Namun demikian, pada tahap ini kurva kalibrasi belum diterapkan, sehingga hasil yang diperoleh masih bersifat indikatif dan belum digunakan untuk kuantifikasi absolut.

Peningkatan Kompetensi Analisa Laboratorium

Melalui sesi hands-on ini, peserta memperoleh pengalaman praktis dalam menjalankan analisis HPLC–RID secara menyeluruh, mulai dari pengoperasian sistem hingga interpretasi data hasil uji. Peserta juga belajar memahami hubungan antara parameter metode, kondisi instrumen, dan kualitas kromatogram yang dihasilkan.

Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kemampuan analitis yang dibutuhkan dalam kegiatan riset maupun pengujian di laboratorium.

Penutup

Training HPLC–RID Part 2 memberikan pemahaman komprehensif mengenai operasional sistem dan analisis sampel polimer melalui praktik langsung. Dengan kombinasi antara penguasaan instrumen, pemahaman metode, serta interpretasi data, pelatihan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas analisis dan kesiapan sumber daya manusia dalam mendukung kebutuhan industri dan penelitian, khususnya di bidang EOR.

Tertarik Berkolaborasi?

OGRINDO ITB dan Laboratorium EOR ITB membuka peluang kerja sama dalam bentuk pelatihan, penelitian, maupun layanan analisis laboratorium yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan industri dan akademisi.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:
📧 OGRINDO ITB: info@ogrindoitb.com
📧 Laboratorium EOR ITB: eor@itb.ac.id

Tingkatkan kualitas analisis Anda bersama kami melalui pelatihan dan kolaborasi berbasis riset dan praktik terbaik.