Kategori
News Article

Memahami Surfactant Retention dalam Chemical EOR

Dalam surfactant flooding, surfaktan diinjeksikan ke reservoir untuk membantu meningkatkan perolehan minyak, salah satunya melalui penurunan interfacial tension (IFT) antara minyak dan air. Namun, tidak seluruh surfaktan yang diinjeksikan akan tetap bergerak bersama fase fluida. Sebagian surfaktan dapat tertahan di dalam porous media melalui beberapa mekanisme. Memahami surfactant retention penting untuk mengevaluasi bagaimana surfaktan ditransportasikan melalui batuan serta bagaimana retention dapat mempengaruhi efisiensi penggunaan chemical dalam Chemical Enhanced Oil Recovery (EOR).

Gambar 1. Aliran surfaktan melalui media batuan berpori selama proses injeksi.
Gambar 2. Surfactant retention akibat interaksi dengan permukaan mineral dan sistem pori.

Apa yang Terjadi pada Surfaktan di Porous Media?

Ketika surfaktan mengalir melalui batuan, molekulnya dapat berinteraksi dengan permukaan batuan dan fluida di dalam pori. Interaksi tersebut dapat menyebabkan sebagian surfaktan tertahan di dalam porous media.

Beberapa mekanisme surfactant retention meliputi:

  • Adsorption, yaitu interaksi molekul surfaktan dengan permukaan batuan yang menyebabkan surfaktan teradsorpsi pada permukaan tersebut.
  • Phase trapping, yaitu surfaktan tertahan akibat distribusi dan interaksi antar fase di dalam pori.
  • Precipitation, yaitu terbentuknya presipitat atau fase padat pada kondisi tertentu sehingga sebagian surfaktan tidak lagi berada dalam fase fluida yang mengalir.

Mekanisme tersebut dapat mempengaruhi transport surfaktan di dalam porous media.

Gambar 3. Beberapa mekanisme surfactant retention.

Mengapa Surfactant Retention Penting?

Surfaktan yang tertahan tidak lagi ikut bergerak bersama flowing phase. Retention yang lebih tinggi dapat mengurangi jumlah surfaktan yang terus bergerak melalui porous media dan berpotensi meningkatkan kebutuhan chemical untuk mencapai area target.

Karena itu, retention menjadi salah satu aspek penting dalam mengevaluasi perilaku dan efisiensi chemical pada Chemical EOR. Namun, retention bukan satu-satunya parameter untuk menilai kinerja surfaktan. Evaluasi juga dapat mencakup IFT, phase behavior, stabilitas, wettability, dan performa coreflood.

Gambar 4. Alasan mengapa surfactant retention itu penting.

Bagaimana Retention Dievaluasi di Laboratorium?

Retention dapat dipelajari melalui pengujian statis maupun dinamis. Pada pengujian dinamis seperti coreflood, surfaktan dialirkan melalui core plug, kemudian effluent dikumpulkan dan dianalisis.

Secara sederhana, pengujian dapat dilakukan melalui tahapan:

Brine saturation → Surfactant injection through the core → Post-flush → Effluent collection → Concentration analysis

Secara sederhana, jumlah surfaktan yang diinjeksikan dibandingkan dengan jumlah surfaktan yang diperoleh kembali dari effluent. Berdasarkan pendekatan material balance, selisih keduanya dapat digunakan untuk memperkirakan jumlah surfaktan yang tertahan di dalam porous media:

Surfactant injected − Surfactant recovered = Surfactant retained

Hasil retention dapat dinyatakan, misalnya, dalam mg surfaktan/g batuan.

Gambar 5. Tahapan pengujian dinamis yang dilakukan untuk mengevaluasi surfactant retention.
Gambar 6. Cara memperkirakan jumlah surfaktan yang tertahan di media berpori dengan pendekatan material balance.

Faktor yang Mempengaruhi Retention

Besarnya surfactant retention dapat berbeda pada setiap sistem dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:

  • jenis dan mineralogi batuan
  • jenis dan konsentrasi surfaktan
  • komposisi dan salinitas brine
  • pH
  • temperatur
  • interaksi rock–surfactant–brine

Oleh karena itu, pengujian dengan kondisi yang relevan dengan sistem reservoir menjadi bagian penting dalam evaluasi Chemical EOR.

Dari Laboratorium ke Aplikasi EOR

Data surfactant retention memberikan gambaran mengenai bagaimana surfaktan ditransportasikan melalui porous media dan dapat digunakan sebagai salah satu bagian dari proses screening dan evaluasi Chemical EOR.

Dalam penerapannya, data retention tidak berdiri sendiri. Hasil pengujian perlu dipertimbangkan bersama parameter lain seperti IFT, phase behavior, stabilitas, wettability, dan coreflood performance untuk memberikan pemahaman yang lebih menyeluruh mengenai perilaku dan performa chemical.

Dengan demikian, pengujian retention—khususnya pada kondisi dinamis—dapat membantu menghubungkan evaluasi chemical di laboratorium dengan kebutuhan desain dan pengembangan Chemical EOR.

Untuk Informasi dan Kolaborasi
Laboratorium EOR ITB
Email: eor@itb.ac.id

OGRINDO ITB
Email: info@ogrindoitb.com
Website: www.ogrindoitb.com

Kategori
News Article

Dari Riset Laboratorium hingga Keberhasilan Lapangan: Surfactant Flooding di Tanjung Field

Surfactant flooding merupakan salah satu metode Enhanced Oil Recovery (EOR) yang dapat digunakan untuk meningkatkan perolehan minyak melalui injeksi surfaktan ke dalam reservoir. Penerapannya memerlukan formulasi yang sesuai dengan karakteristik minyak dan air formasi serta evaluasi melalui pengujian laboratorium sebelum diterapkan di lapangan.

Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Scientific Reports membahas penerapan surfactant flooding skala kecil pada waxy oil reservoir di Tanjung Field, Indonesia. Penelitian ini menghubungkan formulasi dan evaluasi surfaktan di laboratorium dengan pengujian coreflood serta implementasi di lapangan pada Zona A yang memiliki potensi remaining oil yang signifikan.

Gambar 1. Studi surfactant flooding di Tanjung Field menunjukkan peningkatan produksi minyak hingga tiga kali lipat dan cumulative oil gain sebesar 7.025 bbl.

Formulasi dan Pengujian Laboratorium

Penelitian ini menggunakan surfaktan Alkyl Ethoxy Carboxylate yang diformulasikan dan dioptimalkan berdasarkan karakteristik minyak dan air formasi Tanjung Field.

Hasil optimasi menghasilkan interfacial tension (IFT) sebesar 0,042 mN/m, dibandingkan dengan IFT awal minyak-air sebesar 18,3 mN/m. Formulasi tersebut juga menunjukkan kestabilan IFT selama pengujian stabilitas termal pada temperatur 63 °C selama tiga bulan.

Evaluasi kemudian dilanjutkan melalui pengujian coreflood menggunakan sampel native core. Injeksi surfactant slug sebesar 0,2 pore volume (PV) dengan konsentrasi surfaktan 2,0% berat menghasilkan peningkatan perolehan minyak sebesar 25%.

Implementasi Surfactant Flooding di Lapangan

Untuk uji lapangan, pasangan sumur injektor dan produser dipilih berdasarkan konektivitas yang baik dan jarak yang berdekatan. Pemilihan ini dilakukan untuk memperoleh respons yang lebih cepat sekaligus menjaga efisiensi biaya pengujian.

Surfaktan diinjeksikan secara kontinu selama empat hari, dimulai pada 19 Januari 2016, kemudian dilanjutkan dengan injeksi air. Produksi dipantau hingga Maret 2017 dengan target effective reservoir pore volume sebesar 10.625 bbl.

Hasil dan Kolaborasi Riset

Implementasi surfactant flooding menghasilkan peningkatan laju produksi minyak hingga tiga kali lipat dan cumulative oil gain sebesar 7.025 bbl. Total biaya pengujian tercatat sebesar USD 61.812, termasuk biaya bahan kimia dan operasional.

Studi ini melibatkan Lab EOR ITB melalui afiliasi penelitian para penulis. OGRINDO ITB juga mendapat apresiasi dalam publikasi atas dukungannya melalui akses terhadap peralatan dan fasilitas eksperimen yang mendukung penelitian.

Hasil studi ini menunjukkan bagaimana evaluasi laboratorium dan pengujian lapangan dapat menjadi bagian dari penerapan surfactant flooding untuk mendukung peningkatan perolehan minyak pada studi kasus Tanjung Field.

Publikasi Ilmiah

Studi ini dipublikasikan dalam Scientific Reports dengan judul:
“Surfactant flooding in waxy oil reservoir in Tanjung field, Indonesia: a case study of successful small-scaled field implementation.”

Publikasi lengkap dapat dibaca di sini.

Tertarik dengan Riset dan Pengujian EOR?

OGRINDO ITB dan Lab EOR ITB terbuka untuk pengembangan riset, pengujian laboratorium, dan kolaborasi dalam bidang Enhanced Oil Recovery serta teknologi terkait perolehan minyak.

Hubungi kami:
📩 OGRINDO ITB
info@ogrindoitb.com
📩 Lab EOR ITB
eor@itb.ac.id

Kategori
News Article

Laboratorium EOR ITB Goes to Yogyakarta: Memperkuat Kekompakan dan Profesionalitas Tim

Dalam lingkungan riset OGRINDO ITB, keberhasilan sebuah tim tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga oleh kekompakan, komunikasi, dan rasa saling percaya. Sebagai bagian dari OGRINDO ITB, Laboratorium EOR ITB memahami bahwa membangun tim yang solid merupakan bagian penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang profesional dan kolaboratif.

Untuk memperkuat hal tersebut, telah diselenggarakan kegiatan Laboratorium EOR ITB Goes to Yogyakarta pada 22–25 Agustus 2026. Selama empat hari tiga malam, kegiatan ini menjadi kesempatan bagi seluruh anggota tim untuk berinteraksi, berbagi pengalaman, dan membangun kebersamaan di luar rutinitas laboratorium.

Gambar 1. Kebersamaan tim Laboratorium EOR ITB dalam kegiatan team building di Yogyakarta.

Membangun Kekompakan melalui Pengalaman Bersama

Selama berada di Yogyakarta, tim Laboratorium EOR ITB menikmati berbagai pengalaman bersama, mulai dari mengunjungi Candi Prambanan dan kawasan Beringharjo, menikmati kuliner lokal, hingga mengeksplorasi kawasan Merapi melalui Lava Tour dengan jeep. Berbagai aktivitas tersebut memberikan ruang bagi anggota tim untuk berinteraksi dalam suasana yang lebih santai dan menikmati pengalaman baru bersama.

Momen perjalanan, makan bersama, team dinner, hingga eksplorasi destinasi menjadi bagian dari proses team building yang memperkuat komunikasi, koordinasi, dan kekompakan antar anggota tim. Lebih dari sekadar perjalanan, pengalaman yang dibagikan bersama membantu membangun rasa saling percaya dan menciptakan hubungan kerja yang lebih erat.

Gambar 3. Berbagi pengalaman, menciptakan kenangan, dan membangun hubungan yang lebih erat sebagai satu tim.

Memperkuat Karakter dan Profesionalitas

Team building juga menjadi kesempatan untuk mengembangkan nilai-nilai yang penting dalam lingkungan profesional. Komunikasi, tanggung jawab, adaptasi, kepedulian, dan kemampuan bekerja sebagai satu tim merupakan karakter yang dibutuhkan dalam menjalankan aktivitas riset dan pengujian di Laboratorium EOR ITB.

Kebersamaan yang terbangun di luar laboratorium diharapkan dapat memberikan dampak positif ketika tim kembali menjalankan aktivitas profesionalnya. Dengan hubungan yang semakin kuat, setiap anggota dapat saling mendukung dan berkontribusi dengan lebih baik.

Gambar 4. Kebersamaan dalam suasana informal untuk mengenal satu sama lain di luar peran profesional.

Family Bonding dan Semangat Baru

Selain memperkuat kerja sama, kegiatan ini juga menjadi momen family bonding bagi tim Laboratorium EOR ITB. Interaksi yang lebih informal memberikan kesempatan untuk mengenal satu sama lain di luar peran dan tanggung jawab masing-masing di laboratorium.

Gambar 5. Menikmati momen bersama dan membawa pulang kenangan dari perjalanan sebagai satu tim.

Pada akhirnya, tim yang kuat bukan hanya tentang bekerja bersama, tetapi juga tentang tumbuh bersama. Melalui kegiatan Laboratorium EOR ITB Goes to Yogyakarta, tim membawa pulang lebih dari sekadar kenangan—tetapi juga semangat baru, hubungan yang semakin erat, dan motivasi untuk terus bekerja serta berkembang bersama.

Gambar 6. Satu perjalanan, satu tim, dan semangat baru untuk terus tumbuh bersama.

Sebagai bagian dari OGRINDO ITB, Laboratorium EOR ITB akan terus membangun budaya kolaborasi dan profesionalitas untuk mendukung kegiatan riset, pengembangan teknologi, dan inovasi di bidang Enhanced Oil Recovery.

Growing Together. Working Together. Innovating Together.

📩 Untuk informasi dan kolaborasi riset:
eor@itb.ac.id | info@ogrindoitb.com